Oleh : Hendi Supriatna
Salah satu yang membumikan negara
indonesia adalah ketika asksi 212 yang menjadi lautan manusia diibu kota kala
itu. Akan tetapi permasalahan seperti itu selalu berlanjut dengan membawa
narasi politik identitas masing-masing.
Kenyataannya adalah bahwa kesatuan islam telah bersatu dengan
disatukannya oleh seorang gubernur dki jakarta waktu itu. Sehingga rakyat
indonesia pada khususnya yang beragama islam terpanggil dengan dalih jihad.
Bahwa apa yang kita kerjakan adalah sebuah jihad untuk membela agama islam
sendiri. Tetapi disisi lain dengan keadaan seperti itu agama islam bisa bersatu
tanpa memandang bulu garis keturunan ataupun beda pemahaman. Disitu hanyalah
kebersatuanlah yang ada sehingga ukhuwah islamiyah terasa dikala waktu aksi
sedang berlangsung. Ribuan umat islam
memadati kota jakarta untuk membela sebuah keadilan dinegeri indonesia.
Semua orang menuntut untuk menegakakan
sebuah keadilan didalam negeri dan bangsa yang kita cintai ini.
Semua itu adalah sebuah
bentuk bagaimana kebersatuan umat islam
dibangsa indonesia sehingga umat islam indonesia mampu bergetar dikanca dunia.
Apakah artinya semua ini apakah umat islam telah bersatu akan tetapi disisi
lain kita liat dalam momentum aksi 212
banyak memangpaatkan momentum tersebut. Yang menjadi tujuan adalah bukan lagi
untuk kepentingan bersama akan tetapi banyak segelintir orang hanya
mementingkan kepentingan peribadi atau kelompok tertentu ini bagaimana atau aku
harus bagaimana dengan kondisi seperti ini.
Kemudian setelah aksi 212 lanjut dua taun kemudian ada lagi sebuah
konprensi reuni 212 akan tetapi disini juga banyak kepentingan didalamnya juga.
Dengan adanya reuni 212 merupakan
langkah kedua untuk mempersatukan umat islam itu sendiri. Tapi pada kenyataanya
yang hadir hanya beberapa orang medatangi keacara reuni 212. Penulis
berpendapat bahwa dengan adanya reuni 212 umat islam mampu berdamai dan tidak
saling ujat antara umat islam sendiri.
Terutama sekarang-sekarang ini dimana momen politik mulai memanas dan dengan
kegiatan reuni 212 ini mampu bagaimana mendinginkan suasa momentum politik
sehingga rakyat tidak lagi menemukan sebuah kebingungan. Yang jadi pertanyaan
adalah reuni 212 ini apakah hanya dimainkan oleh kepentingan segelintir orang
apakah benar-benar sebagai pemersatu umat. Maka disini yang paling kita kedepankan adalah bagaimana dalam
momentum politik sekarang bisa damai tentram dan berjalan dengan lancar. Untuk mewujudkan semua itu
agar tidak saling menghujat adalah bagaimana mengedepankan rasa cinta dalam
setiap individu.
Narasi besar yang dibawa oleh
kegiatan reuni 212 memang sangat bagus akan tetapi ada orang-orang yang
memainkan dibelakang itu. Kenapa itu bisa terjadi karena kepentingan mereka
sudah beda lagi karena selalu dikaitkan dengan narasi politik yang dibawa. Sehingga reuni 212 ini menjadi ronda dalam
menjalankan sebuah gagasan narasi besarnya itu lewat kegiatan reuni 212 ini
yang nota bene adalah orang-orang yang berperan didalamnya juga adalah
oang-orang politikus. Maka pantas saja
kegiatan reuni 212 selalu dikaitkan dengan kondisi politik sekarang. Bukan
hanya yang dikedepankan adalah gagasan narasi besarnya misi kedepannya. Tapi disini malahan sebaliknya yaitu memangpaatkan
reuni 212 sebagai kendaran dalam berpolitiknya.
Reuni 212 seharus harus
menghasilkan sebuah gagasan narasi besar
bagaimana kedamian dan ketentraman dibangsa ini teratasi. Dengan narasi besar
yang dibawa mampu menghasilkan beberapa poin mangpaat yang dihasilkan reuni 212
bukan menjadi kendaraan politiknya. Poin yang dihasillkan harus sejalan dengan
kedamaian dan nilai-nilai tolearan yang selalu dikedapkan. Dimana reuni 212
menghasilkan berbagai solusi atas problem yang terjadi bukan malahan menjadi
benih masalah. Maka disinilah perlu terciptanya nilai-nilai kedamaian
didalamnya. Sehingga ukhuwah islamiah menjadi sebuah misi tercapainya reuni
212.
Sebagaimana sama-sama pemeluk agama islam kita wajib
bersaudara dan menumbuhkan dan menjujung tinggi nilai-nilai ukhuwah Islamiyyah sebagaimana Allah
berfirman dalam al-Quran, Artinya :
“dan tolong
menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa dan jangan tolong
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS.
Al-Ma’idah: 2),
sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW: “perumpamaan kaum mukminin
dalam cinta mencintai, sayang menyayangi, dan bahu membahu seperti satu tubuh,
jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain
ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam. (HR. Bukhori-Muslim),
maka pentinya sebuah persaudaran dalam islam itu sendiri guna menumbuhkan rasa
tolong meolong dalam setiap melakukan kebaikan. Dan ketika ada sesama manusia
yang meraskan sakit maka kita juga merasakannya saling tolong menolong dan bahu
membahu dalam setiap apapun terutama dalam hal kebaikan. Itu semua harus
menjadi sebuah tujuan bagaimana tercapainya narasi besar reuni 212.
ukhuwah Islamiyyah adalah suatu konsep
untuk mempersatukan umat islam itu sendiri dari berbagai perpecahan dan dengkian.
Maka konsep tersebut merupakan suatu kekuatan untuk menjujung tinggi
nilai-nilai persatuan. Nilai-nilai yang terkandung dalam konsep ukhuwah Islamiyyah terkandung bagaimana
persatuan dalam beragama islam ditegakan. Reuni 212 harus mampu bagaimana
konsep ukhuwah Islamiyyah ditegakan
melalaui kontrol sosial. Dimana reuni 212 merubah pola pikir masyarakat kearah
yang moderat demi terwujudnya masyarakat yang toleran terhadap suatu apapun.
Ketika reuni 212 menghadapi suatu perpecahan maka penting yang harus kita
kedepankan adalah ukhuwah Islamiyyah demi
terwujudnya perdamaian dimuka bumi. Maka sebuah proses memiliki peran sangat
penting dalam menjujung nilai-nilai ukhuwah
Islamiyyah yang harus kita terapkan dimasyarakat sebagai sosial kontrol.
Maka sosial kontrol merupakan suatu pengendalian atas masyarakat tidak
dibenturkan dengan ketidak nyamanan terhadap sesuatu. Maka kontrol sosial
sangat perlu untuk diterapkan dari hasil reuni 212.
Salah satu ciri yang menunjukan terjadinya
pergeseran dari modernitas ke-post modernitas adalah ide pluralitas. Dalam
kontek tumbuhnya kesadaran manusia tetap hidup secara plural dalam era global
dewasa ini. Manusia modern didunia dewasa ini sedang dihadapkan pada dorongan
untuk lebih sadar akan realitas plural kehidupan, multi budaya multi agama
disisi lain hidup secara damai dan harmonis. Maka manusia dituntut untuk hidup
bersama dengan perbedaan identitas dan kebudayaan. Bahkan dinegara maju seperti
amerika serikat yang mengklaim sebagai penekspor demokrasi pada kenyataannya hidup
berdampingan secara damai antara orang-orang yang berbeda warna kulit bukanlah
mudah melaikan melewati sejarah yag panjang untuk mempersatukan semua itu.
Pada banyak kasus, umat islam kulit hitam diamerika
serikat belum merasa tenang hidup dilingkungan masyarakat yang berkulit putih.
Sejak malclom-X tahun 1960-an sampai lois farraakhan tahun 1990-an persamaan
hak atara muslim kulit hitam dan bangsa kulit putih masih sedang terus
diperjuangkan.[1] Maka saling toleransi
untuk membetuk suatu tatanan masyarakat sangat sulit demi terwujudnya
keharmoisan setiap agama. Maka pentingnya sebuah keharmonisan dalam sebuah
agama ataupun kebudayan dalam membetuk suatu sistem tatanan masyarakat moderasi
islam dalam reuni 212.

Comments
Post a Comment