Skip to main content

Posts

Showing posts with the label opini

Desa Kepung Kota, Bisa!

Keindahan pantai garut selatan. Dengan pantai tersebar antara cianjur dan tasik. Hingga puncak guha sebagai destinasi wisata wajib dikunjungi. Desa merupakan titik sentral kemajuan untuk indonesia. Jika Desa sebagai gerbang untuk indonesia lebih maju. Kita bisa lihat Desa katanya banyak pendidikan yang rendah. Katanya Desa masih kecil dan banyak kemiskinan ada di Desa. Contoh kecil di Desa Wangunjaya Kec. Bungbulang. Alam yang asri menyimpan segudang harta karun didalamnya. Tapi pertanyaannya kenapa Desa tersebut bisa dikatakan terbelakang. Itu ungkapan penulis lakukan, karena penulis sendiri mengetahui secara objektif Desa tersebut keberadaanya. Desa Wangunjaya kini mulai tergaungkan dengan berbagai kemajuan dilakukan. Penulis sendiri melihatnya biasa saja. Karena kebiasaan Desa tersebut adalah petani dan pekebun. Keadaanya sangat lengket terhadap agama. Harumnya kebudayaan melekat didalamnya. Hingga Taman Baca Masyarakat Cipeundeuy ada sebagai pencerahan untuk Desa tersebut. ...

Hembusan Angin Buzzer Politik

Jika politik dikatakan oleh Hassan Hanafi adalah suatu pembelaan. Keadilan yang diperjuangkan dalam pembelaan tersebut. Perlawanan terhadap ketidak adilan merupakan hal wajib. Karena pada saat tentu perbincangan seperti ini lazim dikonsumsi. Apalagi persoalan politik yang sudah keluar jauh dari haikat demokrasi rakyat.  Politik seperti sekarang seperti dilemahkan. Dengan dibuktikannya beberpa masalah yang sampai saat sekarang tak kunjung selesai. Seperti masalah kemiskinan, kesenjangan dan keterbelakangan. Semua masalah tersebut serasa dilemahkan oleh politik itu sendiri. Karena yang memegangnya pun para elit yang penuh dari kepentingannya.  Status qua yang mereka langgengkan semakin langgeng. Karena tidak adanya otoritas perjuangan rakyat yang dilakukan. Pada akhirnya semacam itu sebagai biang kladi pnindasan berasal. Deskriminatif terhadap kaum minoritas serang mulai tergaungkan. Dengan memegang sistem yang mereka miliki.

Rebut Kekuasaan Desa

Dokumen Pribadi Dua minggu telah berlalu pusaran politik merejalela di Desa. Pertarungan diatara calon pun panas dilakukan. Hingga saling membagusan bahkan saling menjelekan lawan. Begitu yang terjadi selama pertaruangan politik Desa kian panas. Saling klam demi pemenangan menjadi sangat lumrah terhadap suatu isu yang hangat diangkat. Persiapan yang dilakukan calon, dipersiapkan mati-matian. Demi membela calonnya sendiri. Tim solid pun dilakukan secara kuat. Perkuatan tim rasanya sangat penting untuk mengambil suara hati rakyat. Kampanyepun habis dilakukan dengan mendatangkan hiburan seperti, dangdutan dan olahraga poly. Sebagai alat politik dan juga magnet mendatangkan massa. Merebut hati rakyat pun tidak gampang seperti mendatangkan artis. Akan tetapi suara rakyat adalah penentu bagaimana pemimpin Desa seharusnya. Uangpun mengalir kedalam tim pemenangan hingga sampai pada politik uang. Isu tentang politik uang dari atas sampai keakar rumput tak kunjung selesai. Menanggapi h...

Presiden Baru! Demokrasi dan Arah Sosial Baru Indonesia

Sumber: Facebook Presiden Joko Widodo Melintasi ruang waktu. Masuk pada cakrawal pengetahuan yang tak terbatas. Demokrasi merupakan seorang subjek berhak menentukan nasibnya sendiri. Kita bisa ketahui, RUU Bermasalah, kekerasan di papua, kebakaran hutan (karhutla), kriminalisasi aktivis, kerusakan lingkungan, gejolak rasialisme dan petani kaum miskin kota. Mereka menuntut haknya atas rakyat yang dikebiri. Masalah tersebut menuai banyak kontroversi. Sebagai reaksi atas keputusan politik yang disinyalir oleh kepentingan elit. Regulasi yang dilakukan dan jastifikasi yang dibuka. Tidak ada solusi kepermukaan. Apalagi setiap keputusannya tidak representatif publik. Bahkan semakin sekarang kepercayaan publik kepada pemerintah semakin berkurang. Melemahnya hal itu, karena ada bebera yang belum diselesaikan. Seperti yang telah dijelaskan diatas. Tapi yang lebih fundamental masalahnya adalah kemiskinan dan ketimpangan. Masalah tersebut tidak pernah selesai. Kian hari angka kemiskinan dan k...

Ketika Rezim Baper Pada Rakyat

Facebook/ Rakyat Tertindas Kita mesti membedakan atara kata kritik dan bulying. Jika kritik begitu tajam dilontar kepada pemerintah. Maka itu tidak bisa dikatakan sebagai bulying. Hadirnya bulying karena ketidakwibawaan pemerintah terhadap rakyatnya. Jika kritik yang pedas hadir menusuk penguasa. Itu bukti ada yang cacat ditubuh pemerintah. Yang mesti pemerintah lakukan adalah memperbaikinya. Hadirnya kedua itu bisa dibuktikan dengan ketidak berhasilnya dalam menata kota. Atau dalam kurun memerintah menjadi pemimpin. Semua akan terlihat asing jika seorang penguasa tidak menampakan keberhasilannya dalam menjalan kepemimpinannya. Maka disitu perlu dan dihadirkan pengawasan terhadap pemerintah itu sendiri. Agar rakyat dan rezim penguasa bisa sama-sama mengawasi. Untuk membentuk suatu kesejahtraan sosial yang lebih baik. Ketika ditemukannya rezim menganggap kritik sebagai bulying itu salah besar. Merasa baper oleh akyatnya padahal itu sendiri adalah kritik bagiya. Seharusnya di...

Buzzer Politik dan Lupa Wacana Sejahtrakan Rakyat

Facebook / Halaman Agung Webe Tahun 2019 merupakan pertarungan politik bulan lalu. Seiring berjalannya waktu masalahpun muncul kepermukaan. Bukan malah solusi yang dihasilkan. Akan tetapi rentetan masalah yang begitu semberawut bagi perpolitikan Indonesia.  Kita bisa tau, dari maslah kemasalah dengan melihat medsos yang bertebrangan. Arus yang mengalir tidak kunjung di saring. Bagaimana objektivitas kebenaran atau hanya kepentingan sekelompok erit yang menjerat. Kita bisa lihat dari oposisi yang tidak menjadi oposisi. Malahan menghianati dari posisinya sebagai oposisi.  Pertanyaannya adalah bagai mana kedua sisi tersebut bisa bergabung. Sedangkan oposisi bagi penulis sagatlah penting untuk mengawasi kenerja pemerintah dengan segudang kritik yang menusuk dan tajam. Seperti kinai yang ditusukan kepada Menko Polhukam dibanten.  Para elit politik sekarang Lapa akan wacana mensejahtrakan masyarakat. Dengan beralihnya oposisi menjadi pendukung sebagai bukt...

Jeratan Rakyat dan Keserakahan Penguasa

Facebook/Anti Faker Indonesia Tangisan rakyat tak pernah padam. Mereka selalu berlalu lantang menyuarakan keadilan. Lantas keadilan sebagai tujuan dicuri oleh jeratan politik penguasa. Keseakahan itulah yang membabi buta gentingnya nasib rakyat. Realitas politik pun tak bisa dibendung. Hanya tangan-tangan penguasa yang menerpa kepentingan diatas jeritan rakyat.  Rakyat pun tak bisa berucap. Oleh dalih aturan yang membelengu nasibnya. Jika rakyat ingin membebaskan dari jeratanya hanya ada dua pilihan mati menunggu dan keserakahan penguasa. Melihatnya tak berdaya, mereka memainkan alat politk yang menawan. Dibungkus dengan wajah kasih sayang. Tapi dibelakangnya mereka tersenyum akan kepentingan untuk mengumpulkan akumulasi modalnya.  Rancangan Undang-Undang sebagai wajah untuk mempertahankan kekuasannya. Lumbung-lumbung ekonomi mereka hisap. Tanah, air, udara dan kekayaan indonesia bukan lagi atas nama rakayat. Akan tetapi hanya penguasaan elit yang memgangnya....