![]() |
| Facebook / Halaman Agung Webe |
Tahun 2019 merupakan pertarungan
politik bulan lalu. Seiring berjalannya waktu masalahpun muncul kepermukaan.
Bukan malah solusi yang dihasilkan. Akan tetapi rentetan masalah yang begitu
semberawut bagi perpolitikan Indonesia.
Kita bisa tau, dari maslah
kemasalah dengan melihat medsos yang bertebrangan. Arus yang mengalir tidak
kunjung di saring. Bagaimana objektivitas kebenaran atau hanya kepentingan
sekelompok erit yang menjerat. Kita bisa lihat dari oposisi yang tidak menjadi
oposisi. Malahan menghianati dari posisinya sebagai oposisi.
Pertanyaannya adalah bagai mana
kedua sisi tersebut bisa bergabung. Sedangkan oposisi bagi penulis sagatlah
penting untuk mengawasi kenerja pemerintah dengan segudang kritik yang menusuk
dan tajam. Seperti kinai yang ditusukan kepada Menko Polhukam dibanten.
Para elit politik sekarang Lapa
akan wacana mensejahtrakan masyarakat. Dengan beralihnya oposisi menjadi
pendukung sebagai bukti lemahnya dia sebagai oposisi.
Terlebih sangat memuja sekali
terlihat oleh pendukung jokowi. Tak heran meski probowo tersingkiran. Alih demi
alih di media sosial masih banyak informasi yang nyinyir serang sana serang
sini. Sebagai tujuan untuk menjatuhkan lawan. Bukan melalui kritik yang elegan
sebagai bangsa.
Negara kita adalah negara
demokrasi. Siapa saja boleh bericara dan mengkeritik. Dan itu dilindungi oleh
Undang-Undang.
Semisal para mahasiswa yang
mendesak DPR sebagai kritik atas RUU yang tidak pro rakyat. Seperti gejayan
memanggil dan reformasi dikorupsi. Semua tentang itu sebagai pengejawantahan atas DPR yang tidak
profesional dalam mengawal reformasi dibangsa kita.
Terlebih pak jokowi
mengintruksikan kepada ka polri untuk ditambah pengawalan terhadap semua
menteri. Keyakinan rakyat terhadap pemerintah mulai berkurang. Ketidak
percayaan publik terhadap pejabat publik kian hari semakin tidak percaya.
Lebih lagi buzzer elit politik
sebagai pemuja suatu penokohan. Mereka lebay saling membaguskan sosoknya.
Bukannya malahan berdialog bagaimana kesejahtraan masyarakat. Media sosialpun
ikut meramaikan bikin isu.
Misalkan folowernya yang banyak
sebagai endros atas kepentingan tokoh tersebut. Semuanya berlomba-lomba melakukan
penyerangan. Para buzzer pun rapih seperti polisi yang siap tunduk dan patuh
atas peritah atasannya. Padahal disisi lain media sosial sibuk oleh mereka
kepentingan para elit. Sedangkan rakyat masih tergenung oleh rasa lapar dan
haus.
Mestinya jadi PR adalah bagaimana
membludakan isu tentang wacana-wacana kesejahtrakan masyarakat. Bukan membuat
isu tentang suatu kebaikan tokoh atau penyerangan terhadap lawan.
Biarkan kami, Rakyat biasa yang
seharusnya menikmati media sosial sebagai solusi atas kesejahtraan masyarakat.
Kita tidak mungkin lebay. Karena kami berpihak pada rakyat.
Bukan malah membangun istana yang
megah. Tapi bangunlah kesejatraan masyarakat yang elok. Dimana kita kedepan
tidak akan lagi kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan penindasan. Semua
kita berduduk bersama dan kita saling mencintai dan hidup bahagian sebagai
anggota masyarakat.

Comments
Post a Comment