Skip to main content

Jeratan Rakyat dan Keserakahan Penguasa

Facebook/Anti Faker Indonesia


Tangisan rakyat tak pernah padam. Mereka selalu berlalu lantang menyuarakan keadilan. Lantas keadilan sebagai tujuan dicuri oleh jeratan politik penguasa. Keseakahan itulah yang membabi buta gentingnya nasib rakyat. Realitas politik pun tak bisa dibendung. Hanya tangan-tangan penguasa yang menerpa kepentingan diatas jeritan rakyat. 

Rakyat pun tak bisa berucap. Oleh dalih aturan yang membelengu nasibnya. Jika rakyat ingin membebaskan dari jeratanya hanya ada dua pilihan mati menunggu dan keserakahan penguasa. Melihatnya tak berdaya, mereka memainkan alat politk yang menawan. Dibungkus dengan wajah kasih sayang. Tapi dibelakangnya mereka tersenyum akan kepentingan untuk mengumpulkan akumulasi modalnya. 

Rancangan Undang-Undang sebagai wajah untuk mempertahankan kekuasannya. Lumbung-lumbung ekonomi mereka hisap. Tanah, air, udara dan kekayaan indonesia bukan lagi atas nama rakayat. Akan tetapi hanya penguasaan elit yang memgangnya. Lewat relasi kuasalah mereka bermain. Dan dengan otak liciknya mereka mengeluarkan aturan berwajah kepentingan rakyat akan tetapi mereka terdiam. Terselubuk untuk menumpuk-numpukan harta kekayaan.

Segelitir aturan mereka buat. RKUHP, RUU pertanahan, RUU Minerba, RUU kemasyarakatan, RUU KPK, dan RUU lainnya. Semua alat ituhanya mempertahankan kekuasannya. Jika ini dibiarkan mereka akan terus menghisap akan kekayaan indonesia. Yang seharunya amanat konstitusi telah dijelaskan. Bahwa air, tanah, udara, hutan itu diguanakan untuk kepentingan rakyat. Bukan untuk kepentingan elit pengusa berwajah oligarki. 

Penghisapan itu dilakukan secara terus menerus untuk mempertahankan akumulasi ekonominya. Untuk perut yang mereka besarkan. Tikus-tikus liar telah merejala lela. Sampai masuk pada gedung-gedung tinggi dan megah. Para tikus itu dengan licik menghegemoni rakyat dengan jeratan segelintir aturan yang menindas. Demokrasi telah dikeberi oleh tikus-tikus itu. Mereka tidak lagi menjadi suara hati rakyat. Akan tetapi mereka berwajah baik menindas dilakukannya. 

Jika itu semakin dibiarkan. Tidak mungkin bangsa ini menjadi sejahtra. Dan lebih jauhnya bagaimana mungkin untuk membentuk suatu peradaban baru. Dimana didepan sudah tidak ada lagi namanya kemiskinan dan kesenjangan. Bagaimana ini bisa terwujud sedangkan tikus-tikus liarnya pun masih duduk manis digednung yang megah dan berAC. Maka semua itu kita harus lawan. Diam tertindas atau bangkit melawan. 

Demo itu suatu keharusan, baca buku itu wajib. Meskipun banyak yang menghegemoni jagan khawtir semua aksi pasti ada yang dditunggangi. Pertanyaannya, apakah itu ditunggangi oleh kepentingan rakyat. Atau kepentingan segelitir tikus bangsat. Tinggal bagamana kita kokoh terhdap penguasa. Bagaimana jeratan penguasa bisa kita halau. Oleh kritikan yang menyerang para penguasa dan para oligarki. Yang menyelengarakan aturan main yang kotor itu. 

Semua pasti bisa, kita yakin bahwa apa yang kita perjuangkan adalah atas nama rakayat. Atas nama tersebutlah kita jihad melawan keserakahan. Karena keserakahan dikutuk oleh Allah SWT. Maka dari itu, jangan diam kita kedepan punya agenda yang lebih besar. Kita siapkan massa yang sebanyak-banyak untuk membentuk dunia baru yang lebih baik. Jika kita yakin pasti semuanya akan berjalan dengan lancar. Maka yakinlah bahwa perlawanan yang kita perjuangankan adalah suatu keistimewaan yang punya oleh pemuda. 

Maka berlaku adilah sejak dalam pikiran maupun perbuatan, yang telah disampaikan oleh pejuang kita terdahulu. Debat lah para penguasa dengan atas nama rakyat. Lawanlah mereka dengan kepentigan rakayat. Kita siap mati ‘demi membela rakyat. ,karena pada hakikatnya rakyat adalah suatu bagaian dari kita sediri, maka lakukanlah dari sekarang baik tindakan atau tulisan selagi kita bisa. Berjuanglah,

Comments