![]() |
| Facebook/Filsafat Agama |
Bisa juga benar menurutku, Tepi
bisa salah menurutmu. Kacamata yang berbeda menimbulkan hasil keputusan yang
berbeda. Sungai yang mengalir namun dijalan banyak benturan meyertainya. Ketika
sejarah untuk mencari sebuah kebenaran. Pada akhirnya dari tempatku bisa benar
belum tentu dari tempatmu berasal.
Kemungkin tentang terjadi suatu
kebenaran belum bisa dipastikan. Akan tetapi kepastian itu hanya diputuskan
oleh subjek itu sendiri. Kebenaran akan bertahan sampai kapanpun. Akan tetapi
jika itu salah akan runtuh dengan sendirinya.
Ketika Hegel (1770-1831 M)
mengeluarkan suatu teori tesis, antitesis dan sintetis. Kemudian disimpulkan
menjadi dialektik. Ketika kebenaran itu berasal dari rasionalitas tapi disisi
lain kebenaran itu berasal dari empirisme. Kedua ini, meligitimasi
kebenarannya. Yang sama-sama ingin dicapainya.
Ketika Descartes merupakan bapak
rasionalitas dan Hume sebagai seorang empirisme. Kedua itu akan menghasilkan ketegangan.
Kedua itu dinamakan sebagai tesis dan antitesis. Keduanya meyakini kebenaran
masing-masing. Tergantung pakai kacamata siapa dan berawal dari tempat yang
mana. Bagi hegel kedua itu yang dinamakan sebagai negasi.
Negasi itu merupakan suatu
ketegangan yang dilakukan oleh Descartes dan Hume. Hingga pada akhirnya
menemukan suatu sintesis. Seperti yang di lakukan oleh Kant. Bagi Kant dari
kedua itu jika melihat dari sisi lain. Bisa juga benar dan juga bisa dikatakan
salah. Ketika Kant mencetus gagasannya mengenai idealisme transendental.
Menjembatani kedua ketegangan diatas.
Akan tetapi dari masalah Kant
juga pada akhirnya akan menemukan antitesis baru. Maka hukum dealetika seperti
itu. Ketika kita melihat sejarah dari dulu sampai sekarang selalu berputar.
Tetapi yang lebih tepat adalah pengetahuan itu progresif. Bagi hegel
pengetahuan manusia seperti itu. Tidak dipungkiri bahwa pengetahuan manusia
seperti sungai yang terus maju dan berkembang.
Pada akhir ini, dari individu
manusia selalu berkontradiksi. Dari sebagian kubu adalah pro dan disisi lain
kontra. Pada akhirnya kedua hal itu sama persis dengan apa yang dikatakan
hegel. Bahwa fakta sejarah sebenarnya manusia itu selalu negasi dengan yang
lain.
Seperti “01 dan 02” kedua inilah
sampai sekrang yang menjadi buzzer dari ketegangan itu. Mungkinkan dari
ketegangan itu menemukan satu sintesis. Kita bisa lihat pada akhir ini kedua
itu sama-sama berkoalisi. Tapi apakah ini merupakan suatu sintesis.
Penulis berpendapat bahwa itu
bukanlah sintesis. Karena pada dasarnya pengetahuan manusia itu progresif
dilakukan. Kedua itu bernegasi satu sama lain. Artinya saling mengkritik untuk
membangun. Koalisi itu dihadirkan tidak lain adalah bagi kue. Karena selaku
oposisi tidak mendapatkannya.
Situasi politik seperti itu tidak
menjadi cermin kebaikan. Karena dalam dirinya terdapat suatu keserakahan.
Bagaimana untuk menemukan suatau pengetahuan yang baru. Jika kedua tidak saling
mengawasi. Nyatanya tidak akan menemukan suatu ketegangan yang akan mendapatkan
suatu yang baru yang lebih baik.
Keserakahan itu muncul karena
adanya dorongan dari dalam dirinya untuk berkuasa. Kekuasan itu melahirkan
rakyat yang dikuasai. Hingga rakyatpun terjerat oleh kuasanya. Akan tetapi
dalam konteks seperti itu bagi Hegel manusia itu tidak bisa dipisahkan dengan
sosial. Karena itulah kenapa manusia harus bernegasi satu sama lain.
Dari negasi tersebut hilang.
Kritik otokritik menjadi bias dilakukan oleh pemerintah. Tinggal sekarang yang
menjadi oposisi biarlah kami sebagai mahasiswa. Menurut mahasiswa yang lantang
kepermukaan.
Ketika pada waktu itu tahun 98
mahasiswa bernegasi dengan suatu kekuasan yang diktator. Kebaran mahasiswa
sebagai antitesi dari rezim penguasa pada saat itu. Menimbulkan negasi yang
sangat tegang kala itu.
Pemerintah yang diktator
mendeskriminatifkan demokrasi. Antitesi yang muncul yaitu mahasiswa sebagai
gagasan reformasi. Kenapa sekarang harus dituntaskan reformasi. Mestinya bagi
Hegel harus menemukan sintesis atau bisa juga antitesi yang baru.
Mungkin kah sekarang mahasiswa
menjadi antitesis yang baru. Dari prolem RUU yang bermaslah dengan rakyat.
Mahasiswa mestinya secara konsisten negasi itu konsisten dilakukan. Agar ketegangan
itu muncul suatu antitesi baru yang lebih baik.
Maka untuk mencapai hal itu
mahasiswa harus selalu berelasi. Wujudkan ketegangan itu sampai darah titik
penghabisan agar menjadi pengetahuan yang baru. Bagi kesejahtraan manusia di
bangsa ini. Kita diam dengan penuh penghianatan atau melawan dengan daya pikir
dan pengetahuan yang dinilikinya.
Kejadian aski tanggal 24/30
september mestinya masif dilakukan. Agar ketegangan itu menghasilakan apa yang
dikatakan oleh Hegel. Bagaimana menemukan suatu pengetahuan yang baru progresif
dilakukan. Jika dilakuka terus menerus hasilnya pun tidak akan pernah sia-sia.
Karena yang lebih penting untuk diyakini bukanlah hasil. Melainkan dealektika
seperti tadi mestinya progresif dillakukan.
Sampai pada akhirnya menemukan
pengetahuan yang baru. Karena kebenaran bisa diccapai karena dialog ecara terus
menerus dilakukan. Sampai pada titik menemukan kebenaran yang ilmiah dan
objektif. Agar antitesis yang baru sebagai wacana untuk menemukan suatu
perubahan yang baru yang lebih baik dari sebelumnya.

Comments
Post a Comment