![]() |
| Facebook/Relawan Jokowi Hebat |
Baru-baru
ini terdengar isu. Kampus sebagai lumbung radikalisme. Organ ekstra menjadi
sorotannya. Bahwa organ ekstralah pemicu radikalisme. Padahal belum tentu
apakah itu radikalisme atau belum. Perlu dikaji ulang apakah yang mengklaim
sudah mengerti radikalisme secara devinitif.
Maraknya
klaim-klaim tersebut mahasiswa baru menjadi takut. Bias untuk dibahas
dikalangan golongan tertentu. Tetapi apakah benar pemicunya seperti itu.
sedangkan radikalisme muncul oleh sekelompok agama rata-rata. Pemicu radikalisme
akar dari pemahaman agama yang berbeda. Pemahaman agama yang fundamentalis.
Sering terjadinya akar kekerasan begitupun radikalisme yang ekstrimis.
Radikalisme
adalah paham atau aliran yang radikal dalam politik. Paham atau aliran
yang menginginkan perubahan atau
pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Atau sikap
ekstrem dalam aliran politik. Sikap tersebut dilandasi oleh suatu idelogi atau
pemaham yang berbeda. Dan pemahaman orang lain salah sehingga harus dibumi
hanguskan.
Kita
bisa lihat rasialisme yang ada dipapua. Disana banyak kejadian rasial. Dan
bertolak belakang dari HAM. Isu terebut menyebar diberita-berita bahwa dipapua
terjadi kekerasan. Kekerasan muncul bahwa papua ingin merdeka. Bukan pemahaman
agama yang berbeda. Hanya mereka menginginkan kemerdekaan.
Tetapi
disisi lain juaga seperti kasus warga Rohingnya mengalami kekerasan. Penidasan,
pendiratan, dan pembunuhan. Terbukti pemahaman agama yang menjadi pemicu.
Karena umat islam yang minoritas. Dan umat non islam menjadi mayoritas. Ribuan
jiwa manusia melayang dan tragedis.
Anak
yang tidak berdosa nyawa melayang. Mereka mendapatkan suatu penindasan dan
kekerasan terhadap kaum minoritas. Mereka tewas ditembak mati. Terluka dan tak
berdaya. Mereka kelaparan karena Rohingnya tidak mendapat kemanan dari
negaranya sendiri. Sehingga mereka harus mengungsi kenegara lain.
Konflik
tersebut, sebenarnya tumbuh dari politik dan pemahaman agama yang fundamental.
Merasa pemahaman mereka yang lebih benar. Dan beranggapan pemahaman orang lain
salah. Politik dan agama juga menjadi pemicu. Politik yang menjadi alat
kepentingannya. Sedangkan agama yang berbeda secara pemahaman. Meskipun itu
bersifat fundamental.
Menilik
sejarah teologi islam kekerasan sudah ada. Pembunuhan yang dilakukan oleh Qabil
dan Habil. Pertama melakukan pertumpahan darah. Pertarungan saudara atas
saudara kandung sendiri. Kemudian sikap tersebut berkembang menjadi wajah
fanatik, ekslusif dan intoleran.
Kemudian
kita tidak bisa pungkiri. Periode umat islam sendiri melakukannya. Terbukti
dari perang Shiffin. Yaitu perang saudara atara Muawiyah (37 H / 648 M). Dengan
kelompok Ali. Yang hampir menang ketika itu. kemudian disitu Muawiyah melakukan
penawaran perundingan (tahkim). Sehingga pengikutnya sekitar 4000 memisahkan
diri. Sehingga lahirnya kaum khawarij. Kaum tersebut menyatakan bahwa persoalan
tersebut harus diselesaikan lewat kehendak tuhan. Kemudian Ali bin Abi Thalib
dan Muawiyah diponis kafir oleh pengikutnya. Kemudian dari itu diteruskan oleh
pimpinan Muhammad bin Abdul Wahab dengan pahamnya wahabi.
Kemudian
kasus diindonesia yaitu pembunuhan kasus munir. Yang sampai sekarang belum juga
tuntas. Dia adalah seorang pejuang HAM dinegeri ini. Lantas mengapa negara
membiarkan kasus tersebut. Apa pemicu dan dalang dari pembunuhan tersebut.
Dari
kejadian tersebut. dapat dimengerti
bahwa radikalisme muncul oleh suatu ideologi politik yang berbeda. Kemudian
berangkat dari pemahaman agama yang berbeda dan sempit, tertutup dan ekslusif.
Kaum tersebut serasa dirinya paling benar dan menganggap orang lain salah.
Sehingga orang yang tidak sepemahan dengan mereka perlu dibumi hanguskan,
dibunuh dan ditindas.
Radikalisme
merupakan pemikiran atau sikap keagaman yang ditandai, sikap intoleran, tidak
mau menghargai pendapat orang lain, sikap fanatik, sikap ekslusif dan sikap
revolusioner, Rahimi Sabirin (2014 : 5). Kemudian radikalisme dibagi terhadap
dua bagian. Pertama fundametalisme yaitu dalam bentuk fikiran. Dan yang kedua
dalam bentuk prilaku yaitu teririsme.
Kelompok
yang mempunyai ideologi tersebut. Biasa sukar akan menghargai pendapat orang
lain. Sehingga pendapat dan pemahaman orang lain harus dihanguskan. Baik secara
fikiran (fundamentalis) dan tindakan (teroris). Semua itu merupakan pemicu dari
terjadinya akar kekerasan itu sendiri.
Maka
dari itu, segala bentuk kekerasan dan radikalisme sangat bertentangan. Dengan
nilai-nilai kemanusia. Berikut dengan nilai-nilai agama didunia. Apalagi sangat
bertentangan dengan HAM (hak asasi manusia).
Menurut
UU No. 39 Tahun 1999, HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
keberadaan manusia sebagai mahluk tuhan yang Maha Esa. Hak itu merupakan
anugrah-nya yang wajib dihormati, dijungjung tinggi, dan dilindungi oleh
negara, hukum pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan demi serta
perlindungan dan martabat manusia.
Kemudian
hak yang tidak bisa diganggu guat adalah hak untuk hidup. Hak untuk menentukan
nasibnya. Dan memperoleh kemanan dan kenyaman.
Selanjutnya
sudah cukup, tentang kemanusia itu sendiri. Akan tetapi bahwa dalam islam
sendiri memiliki kesamaan. Yaitu Rahmatan
lil-‘alamin dimana kata Rahmatan mengandung
arti benci terhadap kekerasan. Semua manusia dan mahluk dimuka bumi ini perlu
saling mencintai. Agar kekerasan dan permusuhan tidak akan terjadi.
Kata tersebut diambil Al-Quran Surat Al-Anbiya’ (21): 107
yang artinya “Dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk
(menjadi) rahmat bagi semesta alam (Rahmatan
lil a’alamin). Ditegaskan kembali dalam (QS. Al-Hujurat: 13). Semua manusia
diciptakan sama dan karenanya kedudukannya sama. Agar mereka saling mengenal
dalam perbedaan itu. Tetapi manusia yang mulia adalah manusia yang paling
bertakwa.
Pesan Gus Dur juga menyatakan, agama membuat manusia
sadar dan fakta bahwa dirinya bagian dari manusia dan semesata. Semua itu kita
perlu gaungkan dengan nilai-nilai kemanusian dan rasahumanisme terbentuk.
Jika seperti itu dilakukan. Dimasa depan tidak akan lagi
kekerasan. Tidak akan lagi radikalisme yang mengakibatkan pembunuhan. Maka
kebebasan manusia harus diselamatkan. Karena manusia pada hakikatnya bebas
menentukan nasibnya sendiri. Agar keadilan dan kesamaan memiliki hak yang sama.
Dan juga memiliki komitmen yang dibangun untuk mewujudkan manusia yang
bermartabat.
Hal itu merupakan suatu perubahan. karena perubahan
terjadi hanya orang-orang hebat yang melakukannya. Cinta akan ilmu sebuah
kebenaran adalah suatu keharusan. Jika itu menyelamatkan manusai berani untuk
menyatakan. Sehingga keseriusan terhadap kecintaan bisa terwujud.

Comments
Post a Comment