![]() |
| Facebook/Revolusi Rakyat |
Kembali
kepada rakyat merupakan suatu keputusan yang harus diperjuangkan. Keputusan
tersebut kembali ditangan rakyat. Bukan ditangan para penguasa. Yang menjadi
mungkin semua rakyat secara sadar ikut mengambil suatu keputusan. Karena
demokrasi adalah seorang subjek bebas menentukan nasibnya sendiri.
Rakyat
tidak pernah tau dan sadar bahwa mereka sebenarnya sedang memperjuangkan apa.
Kesenjangan dan keadilan di republic kian senjang. Para penguasa sibuk berpoto
dan masih memkai jasnya yang setiap hari berganti. Mobil mewah yang mereka
miliki sangat mewah. Bahkan harga yang mereka beli miliyaran. Jika uang segitu
dipakai didesa gua. Udah bias kasih makan satu kecamatan tuh.
Persoalan
ekonomi sekarang merupakan hal poko. Tinggal mesti ditata ulang kembali.
Kemudian bisa membuat system kembali. Aku menganggap semua kesenjangan itu
jangan-jangan dibuat dengan sengja. Lewat politik yang mereka lakukan.
Perbincangan
dulu dari zaman yunai adalah persoalan keadilan. Seperti kaum sofis memandang
akan keadilan. Mereka memandang bahwa keadilan adalah kesetaraan. Kelompok
tersebuat sangat gunjah oleh pemikiran plato. Bahwa system pada saat itu
kekaisaran. Yang memegang otoritas penuh kekuasaan adalah pemegang tahta.
Lalu pada
saat itu terjadi problematika ada dirakyat. Pada saat itu sama persis dengan
memgang otoritas kekuasaan yang menindas. Kelompok tersebut melihat sangat
jengah dengan kondisi tersebut. Dan membuat resah rakayt.
Kemudian
tidak jauh beda pada saat abad pencerahan. Yang memegang otoritas penuh
kekuasaan adalah gereja. Sehingga rakyat disitu tidak punya kekuasaan. Mereka
kehidupan mereka diatur secara dtail. Hingga rakyatpun tak berdaya dan tidak
punya keputusan sedikit pun. Untuk memutuskan suatu keputusan tentang system
dan aturan yang dipakai oleh otoritas geraja.
Disitu ada
suatu kelompok yang menenteng. Dengan semangat rasionalitas yang menjungjung
tinggi keadilan. Disitu dijelaskan ada perlawanan terhadap otoritas gereja.
Yang memegang keputusan mutlak. Lalu terjadilah perlawanan akan kekuasaan
tersebut. Dengan dibuktikan lukisan-lukisan yang telanjang sebagai pelawanan
pada kekuasaan yang menindas.
Bahkan
dalam islam menginginkan revolusi. Ketika Nabi Muhammad melihat realitas mekah
yang jahiliyah menurutnya. Nabi pergi keguha hira dan merenung didalamnya.
Hingga mendapatkan wahyu pertama. Relitas mekah yang dipegang oleh
kabilah-kabilah pada saat itu. Dan dipegang oleh otoritas kekuasaan. Hingga
pada saat itu, dipegang oleh otoritas kekuasan pada kabilah.
Mengapa
Nabi pergi keguha hira untuk melihat realitas rakyat bangsa mesir. Melihat
perbudakan, yang menjadi kekuasaan diatas manusia. Pada saat itu manusia
kehilangan kehormatannya. Hingga Nabi berusaha membebaskan dari otoritas
kekuasaan tersebut.
Bahkan
tokoh pemikir muslim seperti Ali Syariati, Asghar Ali dan Hassan Hanafi. Mereka
menginginkan umat islam yang berkemajuan. Islam terbebas dari segala tirani dan
status quo yang menindas.
Kedepan
harus membuat suatu tatanan yang baru. Tatanan itu terbebas dari segala macam
tirani yang menindas. Karena danpak dari situlalh asal muasal kesenjangan yang
terbelenggu miskin dan terbelakang.
Yang sangat
dibutuhkan untuk saat ini adalah perjuangan akan sebuah tatanan perubahan. Semua manusia pada
hakikatnya bekerja. Kesetaraan memperjuangkan segala tirani.
Orang miskin
semakin miskin. Mereka tidak punya tanah sepeserpun yang mereka miliki. Kita sadar
semuanya mereka tidak punya tanah. Kekuasaan yang mereka miliki dan politik yang
bincangkan adalah suatu keniscayaan nihil bodoh dan tolol lalu diinjak.
Pembebasan
tanah mesti diserahkan kepada rakyat. Bukan dikuasai oleh para penguasa. Dan pada
akhirnya kesejahtraan dimasyarkat kiat lambat. Disitulah kita mempersepsikan
bahwa tanah adalah alat produksi yang satu-satu bisa bertahan hidup.
Seperti halnya
diperkampungan motif seperti itu sangat marak. Sedangkan dari dulu adalah
perjuangan dan membela kaum lemah. Mereka lemah bisa makan atau enggak
tergantung apa yang mereka kerjakan.
Bersatullah
para petani karena bersatuan itu akan memunculkan perubahan. Mati-matian yang
kita perjuangkan akan tidak akan pernah sia-sia. Mesti nasi yang dimakan pada akhirnya
menjadi sebuah kehinaan. Tak apa asalkan setiap perjuangan dan setiap langkah
kita akan menjadi balasan buat masa depan yang tercerahkan.

Comments
Post a Comment