![]() |
| Fcebook/Rumi Institute |
Kuliah tak memberikan jaminan untuk mendapatkan kesuksesan. Dilihat dari pengalaman seorang penulis yang berasal dari keluarga miskin sampai empat tahun masih miskin. Ayah saya masih menjadi petani dan buruh lalu ibu saya juga masih melakukan pekerjaan kedua hal itu. Terkdang banyak kacamata kebahagian jika kita masuk pada dunia kampus. Kehidupan itu pada awalnya memberikan pandangan yang wah dan penuh kebahagian didalamnya. Pandangan seperti itu, melekat kepada orang yang belum pernah duduk dibangku kuliah.
Justru penulis beranggapan bahwa kehidupan kampus tidak menawarkan hal seperti itu. Seperti kebahagian, surge, main-main secara hedonis dan melihat banyak perempuan yang cantik dan wangi seperti apa yang dibayangkan disurga, Semua itu mengatarkan kita semua terjebak didalamnya. Metamorposis yang diiming-imingi dunia kampus menghantui remaja SMA. Tapi tidak bisa dinapikan persolan itu justru tidak dapat tercapai oleh penulis. Dia masih merasakan ketidak jelasan dan selalu kelaparan pada akhirnya. Akibat miskin yang menjerat sebagai kodrat ilahi tidak bisa melampoinya. Pandangan ini, mengatarkan kepada suatu jelan kosong semuanya hanyalah elit dan borjuis hanya merasakan akan hal surge yang dibayangkan manusia.
Tapi disini penulis akan sedikit berbeda pandangan tentang keabsurditasan kehidupan ini. Kenapa dia menjelaskan akan hal itu. Karena kebahagian tidak dirasakan oleh rakyat yang sebenarnya. Rakyat kecil akan sedih dan selalu kelaparan. Dengan melihat seorang mahasiswa miskin tidak punya apa-apa. Bahkan dia kuliahpun lewat beasiswa yang didapatkan secara mati-matian memperolehnya.
Kehidupan kampus memberikan surge tapi disisi lain mengatarkan kepada suatu yang dipertanyakan.
Kehidupan kampus yang sebenarnya jauh dari kata apa yang diharapkan. Kampus memperoduksi sarjana begitu banyak dan setelah lulus mereka tidak tau kemana. Apakah mereka akan mengamalkan ilmunya atau keadaan pasar yang mendesaknya. Karena kita tidak bisa dipungkiri persoalan makan dan kebutuhan primer kita yang menjadi dasar penghambat untuk terus kita berjalan dan berjuang. Menemukan suatu kehidupan tentang kebahagian rasanya sulit. Besok makan, sore tidak, Besoknya ngutang lalu besoknya lagi puasa. Setalah awal bulan dikirim udah habis nutupin utang yang sebelumnya. Paling bisa dikatakan dengan gali lobang tutup lobang.
Persoalan tersebut sangat melekat dalam diri penulis. Nyatanya kampus tidak berhasil mencetak mahasiswa kepada jalan kesuksesan apa yang dinginkan. Semua focus pada kehidupan individualistic. Tidak memikirkan bagaimana kehidupan social dibentuk lewat jalan kebahagian. Karena semua manusia pun luput terhdap kebahgaian. Meski dalam hal ini penulis sendiri berbeda pandangan. Kebahagian seperti apa yang kita inginkan. Bentuknya seperti apa jika pada akhirnya penguasa yang lebih sejahtra dan Bahagia. Makna hidup yang sering korkan ternyata memberikan suatu kegagalan dalam hidup penulis sendiri.
Kacau dalam realitas hidup ini. Persoalan kampus tidak pernah selesai dari tahun ketahun tidak mendapatkan kepada suatu pencerahan. UKT naik, beasiswa tertutup, kuasa relasi dalam kehidupan kampus, latar bekang bendera yang mereka bawa, Bahkan mahasiswa pun berlomba-lomba merebut kursi. Meski dalam hal ini pun penulis sendiri masuk dalam lingkarannya. Tapi apasih yang kita inginkan demi bela-bela seperti itu. Tujuan dasar kehdiupan kampus sudah jauh dari apa yang sebenarnya dilakukan, Keliheyan para elit kampus merebah dan beradu serba serda merabut kuasa panggung politik. Tidak jauh beda dengan partai yang saling mengangungkan masing-masingnya bro. Semua itu tidak terlepas dari berhala yang dirtuhankan. Penguasa rasanya sulit jika seperti itu wataknya.
Persoalan politik tidak menjeratkan dalam semangat akademik. Semangat intelktual mahasiswa dipertanyakan. Kacau balaunya ruang kampus menjadi sarana ruang public secara tertutup. Parah!, tapi semua itu hanyalah lelucun yang harus kita tawakan. Mereka bermain catur yang beradu dengan kawannya sendiri. Potongan kue dan bagi-bagi serasa tidak enak dipandang. Ngomongin soal kue kehidupan kampus memang tolol dan tidak mempunyai kaidah ilmiah dan semangat ilmiah. Bagiku penulis adalah orang yang biasa saja melihatnya. Karena yang menjadi persoalan public kini sudah jauh. Kenapa pembicaran seperti itu, hanya sekarang bisa dipersoalkan dengan wilayah privat. Tidak kunjungnya selesai dan tidak mau ikut-ikut kepada arogan untuk berkuasa.
Kini penulispun banyak merenugnkan. Dengan haidrnya budaya seperti itu, dengan jilat sana sini. Hingga opini public tak pernah memberikan arus. Kemankah kita akan membawa. Persoalan kekacauan yang terjadi dikehidupan kampuspun ikut tak terkendali. Semuanya asik dalam kehidupannya sendiiri. Bagi orang yang merasakan akan hal itu sangat sulit untuk mencernanya. Hal yang perlu kita baca dari persoalan itu kita mampu mendoalogkan dalam kehidupan kampus. Dari yang tidak terkesan secara privat dibawa keranah public. Yang artinya ini pembahasan adalah persoalan public yang mesti diselesaikan secara singkat dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Berjalan seperti itu tidak mudah. Perlu ada suata wacana dan diskusi ilmiah yang dibangun. Prihal DEMA U dan SEMA U harus secara dealektik dibangun. Karena kita tidak dinapikan karena hal itu adalah jiplakan suatu negara. Wewenang dan kewajibannya pun mesti beriringan dengan jalurnya. Bukan malah saling merebutkan kader dan proyekan. Seperti politisi yang partai yang kurang bertanggung jawab.
Disitullah penulis merenungkan kehidupan kampus yang jorok. Tidak jauh beda para politisi yang mengacung dan menganga. Dalam kehidupan itu terkesan dapat kita Tarik suatu pandangan. Kampus bukan lagi suatu motor penggerak dalam masa depan bangsa. Dengan sifat idealnya memikirkan bagaimana bentuk masyarakat, bentuk negara dan bentuk calon istiri yang akan sama-sama berjuang. Malahan seperti para kampret dan cebong yang mereka bawa dari kehidupan kampus yang katanya suci dari kepentingan.
Dari kedua sisi itulah penulis menari suatu pandangan. Bahwa disisi lain kehidupan kampus tidak menjadi akan masa depan kita. Tapi didalamnya juga terdapat permainan yang para elit mahasiswa lakukan. Terus dimankah yang harus kita perjuangkan Bersama. Satu-satunya jalan yang dapat bisa diandalkan kita harus masuk dalam kehidupan dan barisan massa. Karena mahasiwa pun sekarang ikut dalam lingkaran setan yang meraka dewakan. Perjuangan atas nama rakyat sudah tidak terdengar lagi secara subtansi.
Mungkin dari situllah penulis memberikan gambaran bagaimana fenomenda kehidupan kampus yang justru malah terjerat dan asyik dalam kehidupannya. Karena itu sekarang kita masuk dalam persoalan rakyat. Buruh dan petani meraka sekarang membutuhkan kita semua. Ha katas tanah, hak untuk menentukan nasibnya sendiri tidak didapatkan. Para elit sibuk dengan permainan najis politiknya. Barisan massa adalah kedaulatan yang kita pegang sampai mati. Perjuangan hal seperti tidak lapuk oleh waktu dan terkenang oleh jaman.
Melaikan suatu harapan, dimana kita kedepan akan menemukan suatu surge. Yang secara empiris dilakukan oleh Bersama dalam kehidupan manusia. Disana tidak terdapat lagi senggol menyengol dan saling menjatuhkan tapi salaing support dalam pesta yang dilakukan oleh setiap hari. Persoalan HAM, dan menentukan nasibnya sendiri. Adalah hal penting dan bagian utama. Karena sejatinya kita tidak lapuk akan hal itu.
Kenapa dibangsa kita kasus pencurian banyak, kasus kejahatan banyak dan kasus untuk menjadi penguasa menjulur diseantero jagat bangsa ini. Persoalannya adalah mereka sebenarnya tidak mau. Akan tetapi karena desakan dan gangguan yang terbelenggu oleh realitas yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
Sekian dan jangan lupa Bahagia bagi kita semua. Kita akan merasakan dimana tidak ada lagi suatu kejahatan pun dimassa depan. Karena kejahatan hanyalah bisa dilakukan oleh para penguasa yang keji yang tidak memikirkan rakyat. Salam rakyat dan hidup perjuangan dimanapun.

Comments
Post a Comment