Skip to main content

Kembali Pada Keputusan, Tuhan Menunggu


Sesuatu untuk diputuskan. Karena keputusan datang dari pikiran yang jernih.
Makna yang tidak terungkap dan kian lapuk. Ditelan bumi yang tak tau arahnya. Sedangkan aku masih menunggu seorang itu. Aku menunggu dalam setiap langkahku terbesit dikepalaku untuk bisa bersahutan mulut dengannya.

Parhanya aku tidak bisa berkenalan denganmu. Karena pada saat itu aku terlalu cinta denganmu meski aku selalu berupaya. Kenapa aku tidak bisa memilikimu. Aku udah pegang janji itu aku akan menunggu. Dan pada saatnya waktu telah tiba semoga dirimu terbuka. Heran rasanya jika aku menelan langsung mentah-mentah.

Persoalan kasmaran memang sangat tanpak dan tidak jelas arahnya. Aku berpacaran hanya utnuk kebebasan. Pacaran adalah satu teman untuk menyatukan satu tujuan. Tidak boleh diprivatisasi karena itu, cinta yang diprivatisasi membatasi ruang-ruang cinta terhadap orang lain.

Asalkan wilayah privatisasi kita dan dia tidak saling mengetahui. Hanya kita berdua yang dapat memaknainya. Penyatuan pandangan memang sangat dibutuhkan untuk berjalan bersama. Tapi masalahnya adalah mampukah dia bersama dalam setiap situasi dan kondisi apapun. Aku memaknainya seperti ini sih perjalaan hidup ini tidak lain adalah sebuah kehidupan yang harus dinikmati.

Kebahagian yang datang akan selalu ada metsi bulan dan matahari mulai terbenam. Tapi kita berhadap esok pagi kebahagian akan datang menghampirinya. Jika aku salah melangkah aku luruskan dan jika aku benar ikutilah aku. Karena itu, aku tidak segan-segan ingin terus bersamamu sampai makna yang sebenarnya itu datang.

Kembali pada pertanyaan, Kenapa kita membutuhkan cinta? Aku yakin karena cinta bagiku adalah suatu yang membangkitkan. Setiap perjalanan hidup kosong akan cinta akan kering. Meski dia berjalan dipadang salju yang dingin. Tapi sebenarnya bukan disitu kita akan mencari bagaimana sesuatu itu datang.

Kita merenung dan terdiam jika kita melirik bangsa yang kita meliki. Bangsa kita kaya dan tuhan ada dalam kehdiupan ini. Maka kita sebagai subjek yang bebas harus mampu menjembataninya. Kita tidak bisa direlakan karena sesuatu yang datang tanpa sendirinya akan mendapat suatu kebahagian yang tak ternilai.

Tulisanku hanyalah aku dan tuhanku yang tau. Mereka yang memperhatikanku itu bebas menilai. karena sesuatu yang menilai yang paling objektif adalah diriku dan tuhan yang tau. Maka berhati-hatilah dalam menilai orang lain. Yang penting aku, kamu, kita dan semuanya besok harus bisa makan.

Comments