Skip to main content

Kiri Islam dan Relevansinya di Indonesia


Dokumen/Pribadi Buku Abad Badruzaman (2005)

Bisa kita ketahui, Revolusi iran dipengaruhi oleh pemikirannya Ali Syari’ati. Tetapi Hassan Hanafi mengatakan revolusi tersebut sama halnya dengan revolusi lainya. Seperti Revolusi Prancis, Revolusi Rusia dan Revolusi Bolshevik. Revolusi itu terjadi karena ada suatu penindasan. Hal tersebut, masalah utamanya adalah kemiskinan dan kebodohan. 

Dalam islam sendiri, selain hubungan manusia dengan Allah. Akan tetapi hubungan manusia dengan manusia pun perlu kita kaji. Hassan Hanafi menenpatkan islam sebagai agama pembebasan. Yakni agama yang mengatur dan membela kaum tertindas. 

Kita bisa liat yang menyebar dimasyarakat seperti penguasa dan rakyat, kemiskinan dan peraktik agama yang menindas (menghisap). Bagaimana tokoh-tokoh agama memberikan harapan dan janji-janji akan kenikmatan. Padahal sekarang dia sedang digemuli kemiskinan. 

Agama dijadikan penghisap kekayaan atas keserakahan dirinya. Ceramah-ceramah yang mereka iming-imingi dibayar sesuai tarif ketenarannya. Dakwah menjadi lumbung komersial komoditas ekonominya. Para ustad dibayar sesuai tarif “Jam kerja”. 

Terlebih penguasa, mulai dari menteri, DPR (anggota legislatif), Bupati sampai aparat Desa. Semua itu kebanyakan terjerat kasus korupsi. Dengan memegang jabatannya mereka lupa akan kesejahtraan. Tapi mereka menghisap lumbung-lumbung ekonomi. Dan pada akhirnya rakyatpun tertindas lewat kekuasaanya. 

Tinjauan tersebutlah yang dikaji oleh kiri islam. Hal tersebut dalam terminologi politik adalah kritisisme.  Kiri yang berarti pembangkang, pengkritik atas kekuasaan yang menindas. Hassan Hanafi menjelaskan  Lahirnya kiri islam sebagai membuka unsur-unsur revolusi dalam agama. 

Dia terbebas dari pengaruh barat dan timur. Hal itulah islam kiri sebagai gerakan sosial politik untuk mensejahtrakan rakyat. Hal inilah yang menurut Hassan Hanafi sebagai Teologi Pembebasan. 

Dalam buku Kiri islam (Abad Badruzaman: 2015) “ Teologi pembebasan menurut Asghar Ali Enginer, satu. Dimulai dengan melihat kehidupan manusia dan akhirat. Dua, Teologi tersebut tidak menginginkan status quo yang melindungi golongan kaya ketika dihadapkan dengan golongan miskin. Teologi pembebasan bersifat anti kemapanan (establishment)”. 

Maka dari itu, ketika seorang ditindas dia harus dibekali ideloginya. Dengan suatu pemahaman membela kelompoknya. Dia memainkan peran sebagai seorang yang penindas harus mencabut hak miliknya. Serta memperjuangkan kelompok yang ditindasnya. Kaum tertindas tidak hanya mengakui suatu konsep tentang takdir. Akan tetapi dia juga mampu menentukan nasibnya sendiri. 

Akan tetapi dalam halaman berikutnya dijelaskan. Menurut syaikh Muhammad Al-Ghazali, salah satu sebab kemunduran dan keterbelakangan umat islam adalah karena adanya kesalahan paradigma berfikir. Dalam memahami kedudukan dan tugas di muka bumi. Apalagi dalam memahami ilmu pengetahuan. 

Yang pertama diajarkan oleh Allah kepada Nabi Adam adalah ilmu pengetahuan. Baik itu kealaman ataupun sosial tentang manusia. Teologi tersebut menurutnya perlu dikembangkan dari pembebasan teologi model lama. Hal sekarang inilah banyak orang yang mendukung status quo. Padahal sejatinya islam itu revlutif. Islam juga anti struktur yang menindas. Hingga sampai pada akhirnya persatuan universalitas ( Universal brotherhood).

Kembali ke kiri islam, Dalam perkembangan pemikiran Hassan Hanafi yaitu islam kiri. Seperti yang dijelaskan diatas kiri berarti kritisisme. Dalam ilmu kemanusia juga kiri adalah orang-orang berpihak yang dikuasai, miskin dan tertindas.

Penamaan tersebut disadari juga oleh Hassan Hanafi. Bahwa islam kiri adalah prinsif meskipun dalam realitas islam tidak ada kiri-kanan. Sejarah menyatakan, jika umat islam selalu digemului oleh kepentingan maka, tidak ada akhirnya islam akan selalu ada dalam pertarungan. 

Meskipun kiri islam banyak diklaim bahwa dia penghianat, pembangkang dan penghasut. Akan tetapi semua itu dilakukan untuk kepentingan kaum tertindas. Menurutnya dengan cara itulah perjuangan kaum tertindas dan miskin untuk selalu digaungkan. 

Dari situlah kiri islam muncul sebagai respon revolusi Iran. Dimana rakyat melawan militer dan menggulingkan syiah. Kemudian diindonesia era reformasi yang melawan penguasa otoriter. Mahasiswa sebagai subjek yang bebas untuk mengkritik. Mereka dengan darah melawan rejim militer soeharto.
Dari kedua kejadian itulah kita bisa ambil contoh. Bahwa revolusi dari ketertidasan dan kemiskinan. Perlu membuat suatu idelogi yang kuat untuk melawan rezim yang menindas. Ideologi tersebut sebagai metafisik bahwa (pengertian demokrasi) manusia bebas menentukan nasibnya sendiri . 

Dalam konteks Indonesia, M. Dawam Raharjo yang selalu menjadi perbincangan model teologi alternatif. Moeslim Abdurrahman dengan “Teologi Transformastif”, Masdar F. Mas’udi “Teologi Populis”, Habib Hirzin “Teologi Perdamaian” dan Mansour Fakih “Teologi Untuk Kaum Tertindas”. Semua hal itu, mempunyai prinsif yang sama dan dipengaruhi yang sama. Yakni membela kaum tertindas. 

Masyarakat, jika tidak percaya lagi menteri yang korup, DPR (legislatif yang korup), bupati kasus suap, dan kepalan Desa yang pungli. Menurutnya, solusinya seperti yang diatas. 

Dengan permasalahan banyaknya pemerintah yang korup. Mungkin carilah alternatif yang lain. Atau seperti yang dijelaskan diatas bisa jadi solusi. Agar masyarakat (Kaum tertindas) bisa bebas dari segala penghisapan komoditas ekonomi penguasa. Karena hal itu merupakan keserakahan manusia yang patut kita perbaiki.

Comments