Bisa kita ketahui, Revolusi iran dipengaruhi
oleh pemikirannya Ali Syari’ati. Tetapi Hassan Hanafi mengatakan revolusi
tersebut sama halnya dengan revolusi lainya. Seperti Revolusi Prancis, Revolusi
Rusia dan Revolusi Bolshevik. Revolusi itu terjadi karena ada suatu penindasan.
Hal tersebut, masalah utamanya adalah kemiskinan dan kebodohan.
Dalam islam sendiri, selain
hubungan manusia dengan Allah. Akan tetapi hubungan manusia dengan manusia pun
perlu kita kaji. Hassan Hanafi menenpatkan islam sebagai agama pembebasan. Yakni
agama yang mengatur dan membela kaum tertindas.
Kita bisa liat yang menyebar
dimasyarakat seperti penguasa dan rakyat, kemiskinan dan peraktik agama yang
menindas (menghisap). Bagaimana tokoh-tokoh agama memberikan harapan dan janji-janji
akan kenikmatan. Padahal sekarang dia sedang digemuli kemiskinan.
Agama dijadikan penghisap
kekayaan atas keserakahan dirinya. Ceramah-ceramah yang mereka iming-imingi
dibayar sesuai tarif ketenarannya. Dakwah menjadi lumbung komersial komoditas
ekonominya. Para ustad dibayar sesuai tarif “Jam kerja”.
Terlebih penguasa, mulai dari
menteri, DPR (anggota legislatif), Bupati sampai aparat Desa. Semua itu
kebanyakan terjerat kasus korupsi. Dengan memegang jabatannya mereka lupa akan
kesejahtraan. Tapi mereka menghisap lumbung-lumbung ekonomi. Dan pada akhirnya
rakyatpun tertindas lewat kekuasaanya.
Tinjauan tersebutlah yang dikaji
oleh kiri islam. Hal tersebut dalam terminologi politik adalah kritisisme. Kiri yang berarti pembangkang, pengkritik atas
kekuasaan yang menindas. Hassan Hanafi menjelaskan Lahirnya kiri islam sebagai membuka
unsur-unsur revolusi dalam agama.
Dia terbebas dari pengaruh barat
dan timur. Hal itulah islam kiri sebagai gerakan sosial politik untuk
mensejahtrakan rakyat. Hal inilah yang menurut Hassan Hanafi sebagai Teologi
Pembebasan.
Dalam buku Kiri islam (Abad
Badruzaman: 2015) “ Teologi pembebasan menurut Asghar Ali Enginer, satu. Dimulai
dengan melihat kehidupan manusia dan akhirat. Dua, Teologi tersebut tidak
menginginkan status quo yang
melindungi golongan kaya ketika dihadapkan dengan golongan miskin. Teologi pembebasan
bersifat anti kemapanan (establishment)”.
Maka dari itu, ketika seorang
ditindas dia harus dibekali ideloginya. Dengan suatu pemahaman membela
kelompoknya. Dia memainkan peran sebagai seorang yang penindas harus mencabut
hak miliknya. Serta memperjuangkan kelompok yang ditindasnya. Kaum tertindas
tidak hanya mengakui suatu konsep tentang takdir. Akan tetapi dia juga mampu
menentukan nasibnya sendiri.
Akan tetapi dalam halaman
berikutnya dijelaskan. Menurut syaikh Muhammad Al-Ghazali, salah satu sebab
kemunduran dan keterbelakangan umat islam adalah karena adanya kesalahan
paradigma berfikir. Dalam memahami kedudukan dan tugas di muka bumi. Apalagi dalam
memahami ilmu pengetahuan.
Yang pertama diajarkan oleh Allah
kepada Nabi Adam adalah ilmu pengetahuan. Baik itu kealaman ataupun sosial tentang
manusia. Teologi tersebut menurutnya perlu dikembangkan dari pembebasan teologi
model lama. Hal sekarang inilah banyak orang yang mendukung status quo. Padahal sejatinya islam itu
revlutif. Islam juga anti struktur yang menindas. Hingga sampai pada akhirnya
persatuan universalitas ( Universal
brotherhood).
Kembali ke kiri islam, Dalam
perkembangan pemikiran Hassan Hanafi yaitu islam kiri. Seperti yang dijelaskan
diatas kiri berarti kritisisme. Dalam ilmu kemanusia juga kiri adalah
orang-orang berpihak yang dikuasai, miskin dan tertindas.
Penamaan tersebut disadari juga
oleh Hassan Hanafi. Bahwa islam kiri adalah prinsif meskipun dalam realitas
islam tidak ada kiri-kanan. Sejarah menyatakan, jika umat islam selalu
digemului oleh kepentingan maka, tidak ada akhirnya islam akan selalu ada dalam
pertarungan.
Meskipun kiri islam banyak
diklaim bahwa dia penghianat, pembangkang dan penghasut. Akan tetapi semua itu
dilakukan untuk kepentingan kaum tertindas. Menurutnya dengan cara itulah
perjuangan kaum tertindas dan miskin untuk selalu digaungkan.
Dari situlah kiri islam muncul
sebagai respon revolusi Iran. Dimana rakyat melawan militer dan menggulingkan
syiah. Kemudian diindonesia era reformasi yang melawan penguasa otoriter. Mahasiswa
sebagai subjek yang bebas untuk mengkritik. Mereka dengan darah melawan rejim
militer soeharto.
Dari kedua kejadian itulah kita
bisa ambil contoh. Bahwa revolusi dari ketertidasan dan kemiskinan. Perlu
membuat suatu idelogi yang kuat untuk melawan rezim yang menindas. Ideologi tersebut
sebagai metafisik bahwa (pengertian demokrasi) manusia bebas menentukan
nasibnya sendiri .
Dalam konteks Indonesia, M. Dawam
Raharjo yang selalu menjadi perbincangan model teologi alternatif. Moeslim
Abdurrahman dengan “Teologi Transformastif”, Masdar F. Mas’udi “Teologi Populis”,
Habib Hirzin “Teologi Perdamaian” dan Mansour Fakih “Teologi Untuk Kaum
Tertindas”. Semua hal itu, mempunyai prinsif yang sama dan dipengaruhi yang
sama. Yakni membela kaum tertindas.
Masyarakat, jika tidak percaya
lagi menteri yang korup, DPR (legislatif yang korup), bupati kasus suap, dan
kepalan Desa yang pungli. Menurutnya, solusinya seperti yang diatas.
Dengan permasalahan banyaknya
pemerintah yang korup. Mungkin carilah alternatif yang lain. Atau seperti yang
dijelaskan diatas bisa jadi solusi. Agar masyarakat (Kaum tertindas) bisa bebas
dari segala penghisapan komoditas ekonomi penguasa. Karena hal itu merupakan
keserakahan manusia yang patut kita perbaiki.
Comments
Post a Comment