Skip to main content

Retorika Aristoteles: Sebuah Upaya Mempengaruhi Publik

Periode Yunani merupakan peradaban klasik pada waktu itu. Ketika Sokrates, Plato dan Aristoteles telah bersama merumuskan dan menuaikan berbagai pemikiran. Ketiga orang ini telah banyak mempengaruhi khalayak pada saat itu. Terutama perlawanan terhadap kekaisaran yang dianggapnya penuh dengan apa yang dianggap tidak benar. Namun Hadirnya retorika telah mampu mempengaruhi kehadiran berbagai corak pemikiran. 

Pada zaman yunani kuno retorika dipakai sebagai alat untuk memenangkan persidangan. Keputusan Hakim yang menjadi titik tolak keputusan menjadi poin penting dalam seni mempengaruhi. Keputusan hakim melihat publik menjadi keputusannya. Dengan demikian publik sediri bisa dipengaruhi oleh retorika. Seperti yang dipakai oleh Aristoteles dalam bertujuan untuk memenangkan dalam sebuah persidangan. 

Retorika bisa dikatakan sebagai teori atau sebagai praktik. Kehadiran retorika terutama apa yang dicetuskan oleh Aristoteles sangat signifikan dalam mempengaruhi khlayak banyak. Terutama pada masa kini atau zaman kontemporer sekarang ini sangat terasa pengaruhnya dalam kehidupan sekarang ini. Tentu dengan demikian Publik telah dipengaruhi oleh retorika itu sendiri. Namun bagaimanakah pengaruh bisa hadir dalam kehidupan sekarang. 

Retorika merupakan seni berbicara untuk mempengaruhi orang banyak. Aristeteles sendiri memakai retorika untuk mempengaruhi masyarakat kala itu. Pemikiran Aristoteles banyak mempengaruhi public pada waktu itu tidak lain memakai retorika untuk mempengaruhi khalayak. 

Bagi Aristoteles reotika adalah alat untuk mempengaruhi orang lain. Menurutnya retorika harus terdiri dari ethos, Pathos dan logos. Ketiga ini sangat penting dalam beretorika atau orang yang berbicara. Dengan ketiga ini akan mampu mempengaruhi khalayak. Pertama, Ethos merupakan kredibilitas yang dimiliki oleh pembicara. Seseorang yang berbicara apalagi mempunyai kredibilitas tertentu. Maka orang pembicara tersebut akan mampu mempengaruhi orang lain. 

Kedua, Pathos bisa dikatakan dengan sesuatu emosi yang keluar dari pembicara. Mengnai hal seperti menangis, marah, bergelora dan lain-lain. Inilah akan mampu mempengaruhi berbagai pengaruh terhadap apa yang dibicarakan. Seperi contoh lain yakni pidato, ceramah dan persentasi dengan demikian jika emosinya dapat diatur dengan sedemikian rupa. Ketiga, Logos merupakan sesuatu yang berkaitan dengan masuk akal dan tidaknya apa yang dibicarakan. Seorang yang beretorika harus mampu menyusun argumentasi secara logis dan masuk akal. 

Dalam kenyataan sekarang banyak orang melakukan berbagai persidangan, pidato, ceramah dan lain sebagainya. Sebab hal ini yang menjadi alat bagi retorika untuk mempengaruhi publik. Keberhasilan arena persidangan ditentukan oleh seberapa pengarunya terhadap khalayak. Terutama keputusan hakim menjadi indikator keberhasilan persidangan. Sebab para kuasa hukum telah berhasil dalam mempengaruhi hakim. Dengan demikian kuasa hukum memakai retorika untuk memenangkan persidangan. 

Seperti contoh lain dalam berpidato persuasif, pidato informatif dan monologis. Kelompok ini retorika dipakai sebuah seni untuk mempengaruhi khalayak. Mereka selalu memakai retorika dalam sebuah pidatonya. Seperti para negarawan dan pemimpin daerah. Mereka sendiri memakai retorika sebagai seni berbicara dalam mempengaruhi orang lain. 

Dalam pemilu misalkan untuk memenagkan suara rakyat diukur seberapa besar pengaruhnya terhadap khalayak. Sebagai calon dalam pemilu mereka harus mampu memepngaruhi publik untuk mempengaruhi orang lain. Secara teknis mereka berkampanye menyuarakan atas calon yang mereka usung. Kampanye mereka Makai alat retorika untuk mempengaruhi orang lain. Agar suara yang mereka dapatkan dapat memenagkan pertarungan pemilu. 

Namun retorika sendiri memiliki kelemahan yang digunakan. Retorika sangat dipertanyakan keilmiahannya. Ia sebatas meyakinkan publik untuk ikut dalam apa yang mereka bicarakan. Kebanaran dan kesalahan apa yang dibicarakan tidak menjadi suatu yang dipersoalkan melainkan seberapa pengaruhnya apa yang dibiacarakan oleh pembicara. 

Disinilah bahwa retorika memiliki pisau bermata dua ia tajam namun tidak memiliki arti yang luas dalam sebuah kebenaran ilmiah yang dapat dipertanyakan dan dipertahankan. Sebab retorika sendiri sangat beragama tidak hanya retorika aristoteles sendiri yang dipakai. 

Comments