Sejak abad 12 pergulatan teologi islam mengalami keterpurukan. Perdebatan anatara Syiah dan Sunni menuai banyak polemik. Kalangan Syiah yang nota bene merupakan kelompok pengikut Ali yang menentang kelompok penguasa.
Sampai bermunculan kelompok-kelompok yang berpaham keluar dari barisan tersebut. Khawari, Kodariyah, Jabariyyah, Muta'zilah dan Asya'riyyah. Sebuah fenomena peradaban islam yang lengkat akan warna. Dengan pergulatan tersebut bisa kita telusuri makah melihat islam yang berkemajuan.
Realitas sekarang kita bisa lihat atas nama agama pertumpahan darah bisa terjadi. Atas nama Tuhan saling dengki dan menghasut bisa terjadi. Bahkan atas nama tuhan keadilan tak pernah muncul kepermukaan. Sebab tuhan-tuhan baru telah muncul. Sosok kapitalisme dan feodalisme ditengah umat islam masih terbelenggu.
Namun kita akan sedikit menggeser bahwa tuhan dibumi mampu mengatasi problem hal itu. Seolah-olah tuhan yang kita sembah jauh dari peradaban bumi tertiwi. Tuhan sendiri telah dijauhkan oleh manusia itu sendiri sebab problem bumi tidak pernah usang malah terkubur.
Melihat tuhan dari kejauhan seolah-olah manusia menenggelamkannya. Sebab tuhan yang dipandang oleh kita sendiri seolah-olah jauh dari kehidupan. Maka tuhan yang dekat telah hilang sebagaimana hilangnya semangat revolusi tauhid dari dulu.
Semangat tauhid telah memunculkan preadaban baru yang berwarna. Namun pergualan tersebut jawaban sekarang apakah harus sama dengan jawaban masa lalu. Masa sekarang adalah problem masa lalu sehingga kehidupan kita adalah jalan untuk kita sendiri.
Comments
Post a Comment