Islam sebagai sebuah agama memberika tawaran untuk bersikap baik maupun buruk. Namun kebaikan dan keburukan telah menjadi tuntutan bagimana nasib kita setelah kematian. Seakan-akan kita diiming-imingi oleh kenikmatan surga dan siksaan dinearaka.
Seolah-olah islam hanya sebuah keputusan yang bisa memponis seseorang. Manusia sekan tidak berdaya dihadapan takdir. Seta tidak bisa keluar dari segala kungkungan yang menjeratnya. Akan tetapi persoalan nasib dan keputusan manusia ada dalam kehendak dirinya.
Manusia bebas menentukan nasib dan perjalanannya asalkan dapat dipertanggungjawabkan olehnya. Keputusan dan kebebasan tersebut melekat pada sebuah kesadaran. Hal ini, telah menjadikan manusia sebagai ketidakberdayaan dihadapan keputusannya.
Namun untuk menulusuri hal itu, kita akan masuk pada ajaran ini dari islam. Dan inti ajaran islam adalah tauhid (teologi). Seiring laju dan berkembangnya sejarah teologi telah menawarkan konsep dari berbagai perspektif. Mulai dari teologi yang statis tidak melakukan perkembangan. Hingga teologi dipandang sebagai sebuah keimanan kerakyatan untuk membela yang dilemahkan.
Dari teologi Asyariyyah sampai Mutazilah telah mewujud perbedaan pandangan. Dengan dinilai bahwa teologi merupakan sesuatu yang menggerakan. Bukan sikap pada sebuah sikap menerima saja dan sabar. Akan tetapi teologi dimaknai sebagai jawaban atas problem sosial kemanusian.
Kemasan teologi bukan bersifat melangit lagi tetapi digeser pada bumi. Sesuatu yang melangit serta turun dalam kehidupan sosial kemanusiaan. Bagaimana teologi menjawa problem kemiskinan, pergusuran, keterbelakangan dan penindasan.
Hal inilah sejalan dengan konsep teologi Hassan Hanafi. Seorang kebangsaan Mesir yang kalir intelektualnya di prancis. Sebagai seoarang pemikir dia telah berhasil menawarkan konsep teologi yang membumi. Yakni teologi dimaknai sebagai sebuah gerakan yang bertujuan pada perubahan sosial.
Teologi yang diusung Hanafi, menurutnya bisa menjawab dari berbagai ketertindasan dan keterbelakangan. Umat isalam dapat kembali bangkit pada keemasan seperti yang dilakukan oleh khalifahan Abbasiyah.
Umat islam dapat muncul kepermukaan dengan sesuatu yang menggerakan. Konsep teologi yang ditawarkan sebagai sebuah kesadaran bagaimana masyarakat melawan ketidakadilan. Bagimana kesadaran umat isalam mengenal dirinya dengan yang lain.
Umat islam sendiri telah ada dalam sebuah sistem ketertindasan. dimulai dengan mengenal diirnya bahwa dirinya telah berada pada ketertindasan oleh yang liyan. Bahwa orang lain harus senantiasa mengembalikan pada batas alamiahnya sendiri. Serta tidak dapat kembali atas penidasan oleh dirinya sendiri.
Comments
Post a Comment