![]() |
| Sumber: Pexels |
Masalahnya
bukan tentang ada dan pembelaan terhadapnya. Akan tetapi cara berpikir
seseorang yang menentukan pemahaman tersebut. Pola pikir seperti itulah akan
menentukan kekeliruan dalam menentukan kebenaran. Semua pandangan tentang tuhan
selalu berbeda. Akan tetapi objek yang sama.
Matrealisme
adalah sebuah pemahaman yang berlandaskan kepada material. Yakni suatu
pengetahuan lewat pengalaman. Seperti sesuatu yang terindra atau bahkan
intuitif. Karena itulah paham tersebut secara aposteriori ada.
Kaum agamis
berpandangan bahwa manusia terdiri atas ruh dan jasmani. Kedua itu yang
membentuk unsur manusia. Jasmani merupakan material yang saling terhubung. Yang
menghidupkan manusia dimulai dari jantung yang selalu berdetak. Tapi disini
bukan berdetak seperti jarum jam. Tapi memompa darah keseluruh urat nadi
manusia.
Manusia
selalu berpikir material dibangun oleh objek. Sehingga subjek diatur secara
konstitusi oleh objek. Manusia pun secara sadar memiliki kesadaran lewat
lingkungannya. Disitulah lingkungan membentuk sebuah karakter. Akan tetapi
bukan karakter baik buruk yang digandakan oleh dogma. Akan tetapi baik buruh
tidak ada tolak ukurnya atas kedua hal itu.
Tapi dalam
kehidupan kita secara nisa ada. Seperti kenapa kita ada dalam sebuah
keniscayaan. Kenapa saya tinggal tiadakan atau tak ada pada awalnya. Seperti
kenapa harus ada siang malam. Kenapa sih dunia ini tinggal siang aja atau
sebaliknya.
Semua itu
diatur oleh suatu hukum alam. Yang secara niscya ada hukum yang membentuk itu
semua. Segala yang terjadi ada sejauh ia terjangkau. Keberadan dalam suatu yang
niscya melihat fenomena yang terjadi.
Terbentuknya
akan hal itu disistematiskan dalam sebuah logika. Jika dalam logika ada yang
namanya kausalitas. Yang merupakan sebab akibat. Adanya seorang anak penyebab
ayah ibu yang ketegangan didalam kamar. Adanya kebodohan karena jarang belajar.
Adanya bercinta karena ada suatu yang niscaya yang diberikan. Adanya muka bumi
ada yang mencipta ini semua.
Hukum
tersebut melihat bahwa itu semua secara niscaya dilakukan dan ada yang
mengatur. Keberadaan seseorang ada suatu yang niscaya hal itu terjadi. Tapi
bukan cahya iman apalagi cahaya lampu. Tapi disini keniscayaan akan hukum alam
yang tunggal.
Seperti
yang lain, mislakan kemiskinan secara tunggal dan ilmiah mereka terjadi. Tapi
mereka juga dibentuk oleh siapa yang memegang alat produksi. Kenapa ada
kemiskinan karena ini semua merupakan dibentuk dan diatur secara sistematis
lewat politik kekuasaan.
Pada akhirnya
secara tidak sadar semua akan keniscayaan pun dibentuk. Meskipun itu secara
alamiah adalah hukum tunggal. Dari manakah hukum alam itu berasal. Kenapa kita
langsung menentukan sebuah keputusan bahwa itu berasal dari satu dzat yang tunggal.
Ketunggal
tersebut yang membuat suatu kesadaran. Kenapa hal itu terjadi, jika kita
kaitkan dalam hukum kausalitas yaitu sebab akibat. Maka hukum tersebut adalah
sah. Bahwa diluar diri manusia dan dialam semesta ada suatu yang mengatur kita
semua.
Untuk hal
itulah kita menamkan suatu hukum yang alamiah. Bahwa suatu itu terjadi tidak
serna merta ada dalam lingkungan dunia. Kita sadar atau tidak ketika melihat
orang miskin. Kenapa kita selalu peduli terhadapnya. Dari manakah kepedulian itu
berasal. Yaitu dari intuitif, dari sinilah suatu hal metafisik bisa diartikan.
Misalkan segala
macam pengetahuan adalah suatu hal yang terindra. Tapi dalam posisi ini darimakah
sikap kepedulian itu berasal. Jika lain secara imanen berasal dari hati yang
secara intuitif berasal. Adanya hal tersebutlah yang menjadi metafisikanya
matrealisme.
Disinilah bahwa
matrealisme metafisika membentuk hukum yang tunggal. Atau pengatur seluruh
secara alamiah. Misalkan jika kita andaikan dengan bahwa api itu adalah panas. Api
yang membentuk panasnya api hadir secara alamiah. Dan kealamihan api tersebut
adalah panas. Lalu siapakah yang memberika panasnya api. Pada akhirnya panas
api dibentuk oleh hukum yang tunggal.
Ada dan
tidak adanya tuhan selalu dikaitkan dengan sebab akibat. Hukum tunggal dan
alamiahnya hal tersebut adalah dzat tunggal. Bahwa dari setiap api pasti panas,
dari setiap es adalah dingin dan setiap jantung adalah berdenyut.
Dari semua
itulah bahwa kita diatur. Kita tidak bisa menjadi subjek bagi kealamihan sesuatu.
Atau ketunggalan dalam setiap apapun yang kita semua pahami dan lakukan.
Menjelakan
fenomena seperti itu. Diluar diri manusia ada sesuatu yang mengatur. Meskipun ruh
sangat sulit untuk dimatrealismekan. Tapi dari manakah datangnya kasih saying. Kenapa
kita cinta terhadap ayah ibu dan kemanusian. Dari sinilah nilai intuitif terjadi
dalam kehidupan kita. Bahwa semua manusia dijalani tidak terlepas dari suatu
hal yang metafisika.
Kesadaran itulah
manusia diciptakan. Oleh sesutau yang secara transcendental membentuk kesadaran
seseorang. Dan kesadaran itu. Diatur secara sistematik mengatur manusia. Lewat kesdarannya
yang menciptakan bahwa manusia tidak terle[as dari suatu hal yang metafisika
yang membentuk kesadaran apapun.

Comments
Post a Comment