Skip to main content

Seseorang Ketika Melawan Takdir


Tanaman Kaktus, poto tersebut diambil oleh santi teman penulis

Stuasi yang tidak diinginkan merupakan suatu hal yang tidak pantas. Jika kita menginginkan sesuatu tak mungkin menjalani. Tapi takdir tak berkata meski kejadian itu tetap terulang.

Melawan takdir memang membingungkan.
Manusia dihadapkan oleh kedua kenyataan sulit. Disatu sisi ia harus berusaha dituntut oleh kesuksesan. Tapi disisi lain manusia tidak bisa berbuat apapun melain kehendak oleh yang diatas. Berbagai kemungkinan selalu terjadi. Padahal manusia bebas menentukan nasibnya sendiri. Ketika ia ingin berbuat kebaikan serasa ia terbatasi.

Takdir yang masuk terhadapnya memang cukup membelenggu. Kedua kenyataan sulit itupun serasa tak bermakna ataukah hanya ujian. Kita tak pernah menghindar dari kedua kenyataan sulit itu. Terkadang jika kita meratap keatas dan menginjak kaki kebawah. Lalu aku selalu bertanya kenapa sih dunia ini harus begini. Dan kenapa harus begitu menghadapi kedua kenyataan yang sulit itu.

Memang benar jika seseorang itu berkata tak penah berkata. Mereka berkata dinijak oleh sewenang keimanan yang mereka miliki. Tak jauh berbeda mereka terpenjara dalam haus serata kelaparan yang menjadikannya ia berbuat apaun oleh dirinya.

Kita menyadari akan semua itu. Kita bertanggung jawab dan tak pernah diam dalam menghdapinya. Menjadi sesuatu dalam dirikita tak pernah berhenti. Selalu dituntut akan perubahan, dituntu terhindar dari kemiskinan yang lebih parah lagi kita harus berbuat baik pada orang lain. Tapi semua itu tak jauh hanyalah ilusi yang membentengi jiwaku yang selalu merana.

Pada kenyatan itu meng sulit untuk terpikirkan. Kita selalu dituntut bahwa itu adalah ujian yang membelnggu kita. Kebelengguan itu serasa berat jika ia memnag memikulnya. Tapi apalah sadar jika kita memang mangluk yang tak bermakna. Manusia selalu dituntut akan kesuksesan padahal dalam hidupnya pun itu merukan suatu anugrah kesuksesan yang tak pernah berhenti.
Kita selalu dan tak pernah sadar dan tak pernah menyadari. Bahwa kenyataan sulit itu kita selalu berusaha pada titik yang tak bermakna dan kosong. Manusia menginginkan akan hal itu padahal semyanya. Ujian yang menjeratnya, meski ia tak pernah tau akan hal itu.

Kedua kenyataan itu memang sangat sulit jika kita tak pernah mencari. Segala argument penah kita dapatkan dan segala kebenaran tak pernah kita temui. Semua tentang perjuangan hanyalah ilusi yang menjadi ujian terhadapnya. Tak pernah tau dan gak mau berfikir. Ketika kita dihadapkan pada kedua kenyataan sulit yang paradoks.

Kita selalu berkaca pada sejarah padahal disatu sisi kita ditutut tentang perubahan social yang menggelutinya. Tak pernah berkaca dan tak pernah ada bahwa segala makna tak mungkin berubah. Kita tidak ada yang ada hanya ilusi najis untuk mengejar keserakahan yang tak pernah henti.

Bagiku perjuangan tentang hidup adalah ujian tak pernah berhenti. Segala macam telah kita lalui dan segala cara tak pernah kita ignkari. Meratapi nasib dalam segala ketertindasan dan segala kesewenangan para penguasa tak pernah dihindari.

Kita manusia lemah jika kita tak mau berfikir. Semua jalan pernah kita lalui dan semua cara pernah kita rasakan. Namun semua itu tinggal sia- sia. Pohon kaktus dalam hidupnya ia selalu bermanpaat. Tapi apa daya dia hidup dalam segelumit harta yang tak pernah kosong. Meski ia hidup dalam ketenangan dan keheningan.
Manusia selalu berjalan pada waktunya. Ia tak pernah lupa bahwa jalan yang ia hadapi tak pernah berhenti disitu. Ia adalah seorang yang mencari dan berkalana. Bahwa hidup dalam ala mini tak pernah ada makna yang terdiam. Mereka meronta-ronta dan berusaha.

Mereka lapar dan mebangun kelaparannya Bersama orang lain. Namun ia tak pernah menjadi bahwa di depan matanya ada sesorang yang tekpenah berhenti. Kita tak pernah lalui Bersama yang akan kita hadapi. Namun perjalanan ini jangan pernah putus. Meski segala makna tak pernah ada.

Dalam kenyataan ini kita hanya bisa menulis dan berkalan. Dalam kanal ini yang tak bermakan kita tuliskan bersama. Kita memikirkan yang tidak bermakna ini dengan serius. Keseriusan itulah yang kita bangun meski ia tak pernah berarti.  Tapi dalam lubuk kita yang terdalam ada jiwa-jiwa yang satu dan yang lain.

Ia ingin berusa keluar dari rasa lapar dan hening ini. Kedua kanyataan yang menjerat dan nasib yang selalu bergantung. Ia tak pernah putus asa kapan kita akan mati. Dan kapan kita akan menemukan jati diri kita. Bahwa peruabahan diarena social kita dituntut untuk merubahnya. Kita dirubah oleh dua kenyataan yang berbeda. Keadilan dan ketidak adilan adalah glora yang siap kita perjuangan. Meski kedua itu hanyalah dambaan setiap orang yang tak pernah mengamatinya.

Harapan dan cita-cita kita terpenah terhiraukan. Bahwa nasib untuk membahagiakan kita meski kita lawan. Bahwa manusia berhak untuk Bahagia meski ia dihadapkan dalam situasi yang sulit. Tapi kesulitan itu kita akan tulis. Bahwa ia tak berarti bagiku dan orang lain.

Tapi tulisan yang tak berarti itu kita tulis dengan serius. Bahwa kita akan senantiasa merubah keadaan. Dan keadaan yang ditakdirkan akan kita lawa denga takdir yang lebih baik. Melawan takdir adalah suatu keharusan jika kita ingin bahagia.

Manusia meski keluar dalam kelaparannya. Dan membangun barisan terhadap orang-orang yanglapar. Bahwa kita esok kita akan pergi melawan takdir kita sebagai seorang yang kelaparan. Kita mampu akan berbuat apapun yang kita inginkan. Salam semuanya menulislah yang tak berarti ini dalam keadaan yang serius memikirkannya. 

Comments