![]() |
| Sumber: Pexels |
Menjadi mungkin ketika takdir tak sanggup
merubahnya. Hanya angan-angan dan ikatan pandangan yang ditindas. Mereka lemah
dalam suatu kehidupan yang hina. Mereka adalah jalang yang tidak punya kekuatan
untuk merubahnya. Tinggal menunggu tuhan yang memberi kasih sayang terhadapnya.
Meski mereka tidak akan memilih terhadap jalan yang dilaluinya.
Proletar merupakan penamaan terhadap suatu
kelompok yang dianggap miskin dan tidak punya apa-apa. Yang mereka miliki
adalah kekuatan tenaga yang ada dipundak dan tangannya. Penyebutan tersebut
bagi Marx adalah suatu kelompok yang lemah. Seperti kaum buruh dan petani
bahkan lebih jauh seperti terlantar, tidak berpendidikan, lemah ekonomi sampai
banyak pandangan terhinakan. Mereka inilah bagi seorang paham sayap kiri
dianggap tidak punya kekuatan secara ekonomi dan politik.
Keadaan yang memaksa mereka memiliki
jalan tersebut. Jalan yang mereka tempuh perupakan penciptaan sebagai dampak
dan akibat ekonomi politik yang semakin bergesekan. Dalam hal inilah bahwa
menurut pandangan Marx kemiskinan adalah dibentuk oleh sekelompok orang yang
bernama borjuis (orang-orang kaya).
Bentuk masyarakat menurutnya terbagi menjadi
dua kelompok. Pertama, orang yang menguasai alat produksi. Kedua,
orang yang tidak punya alat produksi terhadap kekuasaan untuk memperoleh alat
produksi. Disinilah menimbulkan suatu ketegangan terhadap problematika
keduanya. Disinilah pula terjadi akar penindasan yang diakibatkan oleh relasi
kuasa yang menindas.
Relasi kuasa menimbulkan politik diantara
mereka. Hingga menimbulkan kejahatan dan pertikaian diantara manusia. Paham inilah
yang mereka pandang asal kekerasan terjadi. Meski nyatanya bahwa hal itu banyak
yang membantahnya.
Seorang proletar menjadi kehilangan akan
kebebasannya. Kehilangan tersebut terjadi karena relasi kuasa yang menindas.
Penindasan inilah yang dianggap bahwa proletar adalah seorang yang lemah.
Mereka tidak mempunyai perlawanan
terhadap siapa yang menindas. Akan tetapi mereka dibalut oleh suatu
dogma dan doktrin yang kerap terjadi dimasyarakat.
Doktrin tersebut mengakibatkan berhentinya
berjuang. Untuk menemukan nasibnya sendiri. Persoalan kebenaran bukanlah
menjadi apa yang diyakini seorang proletar akan tetapi mereka tunduk dan patuh
terhadap otoritas kekuasaan yang membelenggunya. Nasib seorang proletar pada
akhirnya kehilangan bahwa dia sendiri adalah subjek yang bebas. Mereka bebas
menentukan bahwa jalan yang mereka perjuangan adalah kebenaran yang tidak bisa
digantikan.
Meski seorang proletarpun mereka menginginkan
suatu tatanan yang baik dan sejahtra. Terkadang mereka direbut akan kekuasaan
yang mereka impikan. Tapi ternyata kebahagian tersebut hanya ada dalam impian
semata yang berujung langit yang meratap kebumi. Yang mereka tidak tau arah
bahwa ia sedang berjuang.
Bagi kaum proletar memang kebanyakan tidak
meraskannya. Yang mereka rasakan bahwa ini adalah takdir yang diterima apa
adanya. Keinginan untuk merubah keadaan sangat sedikit peluangnya. Mereka
mati-matian tanpa ada alasan yang kuat.
Tapi disini berbeda pandangan dengan Hassan
Hanafi seorang tokoh intelektual islam. Dia fokus melihat keadaan umat islam
yang selalu terbelakang dan secara terus menerus berada dalam ketertindasan. Misalkan
salah satu contoh kaum proletary umat islam. Menurutnya umat islam mesti keluar
dalam ketidak bebasan manusia. Yang secara implisit dikuasai oleh otoritas
kekuasaan.
Masyarakat selalu ada dalam lingkaran otoritas
kekuasaan. Yang mengakibatkan penindasan bahwa manusia dikuasai oleh manusia
lain. Disinilah posisi manusia bahwa ia tidak bebas dalam menentukan nasibnya
sendiri. Poisisi dia tidak bisa keluar dari suatu kontruk masyarakat yang
secara umum menjadi paham kebudayaan.
Hingga Hassan Hanafi merekontruksi teologi umat
islam. Dalam keterbelengguan (kepatuhan) bahwa posisi mereka adalah kaum
proletar. Dalam bahsa arab dikatakan dengan mustadafiin. Bagi Hassan
Hanafi seorang proletar harus keluar dari posisinya. Dia harus mampu melawan
segala ketertindasan yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
Kebebasan manusia dalam tradisi lama sudah
mengatarkan kedalam dogma. Mereka tidak bebas dan tidak berkemajuan. Hanafi
seorang pembaharu meliibatkan teologi untuk mencapai perubahan tatanan
dimasyarakat. Dimana manusia baginya harus terbebas dari segala bentuk tirani.
Disinilah seorang proletar harus mangakui bahwa
dia sedang berada dalam ketertindasan. Manusia dalam posisi ini selalu lupa
bahwa dia sedang ditindas. Keberadan teologi Hassan Hanafi membawa manusia kearah
kebebasan. Bahwa dia sebagai manusia bebas berpendapat dan berfikir untuk
merubah segala bentuk tirani.
Maka dari itu, menyadari bahwa dirinya sebagai
proletariat. Harus mampu merubah keadaan. Baik dirinya keadaan masyarakat
hingga mencita-citakan suatu tatanan. Perubahan yang diinginkan seperti
kebahgaian, kenyamanan kesejahtraan, bahkan bercinta. Selalu ada dalam ketidak
tercapaian. Untuk mencapainya mereka meski merubah suatu paradigma. Seperti hal
bahwa manusia harus terbebas dari segala bentuk tirani.
Mengaharapkan semua itu, ia harus keluar dari
segala ketertindasan. Jalan satu-satunya untuk keluar dari keterasingan
proletariat harus menyadari bahwa ia ada dalam permainan politik para penguasa.
Dan berusaha keluar dan membangun semangat untuk merubah. Bahwa dia inginkan
suatu keadaan yang terlepas dari tirani.

Comments
Post a Comment