Skip to main content

Filosofi Gunung

Dokumen Pribadi Ketika diPuncak Bersama Supriatna 
Sebuah kenyataan sulit yang akan kita hadapi. Gunung yang tinggi tak mudah ditaklukan. Begitupun keadaan sosial yang menuntut akan suatu perubah tak semudah mengambil hati seorang perempuan cantik. Meski ia tak pernah kembali. Tapi dinamika sejarah akan selalu berubah.

Sebuah pertanyaan besar yang cukup penting bagi pendaki gunung. Kenapa mereka pergi naik gunung? Alasan apakah yang sebenarnya mereka pergi. Emangnya gunung memberikan seorang perempuan cantik, kenapa kow terpukau  sehingga kow terperangkap olehnya.
Pergi kegunung bukanlah suatu tujuan. Yang menjadi tujuan bagi pendaki adalah pulang kerumah dengan selamat. Lalu buat apa pergi kegunung jika tidak membuatkan hasil.

Emangnya hasil yang didapatkan buat apa. Tentu pertanyaan-pertanyaan itulah yang sering direnungi oleh penulis. Kenapa mereka lari kegunung.

Pelarian yang mereka impikan dan wajah gunung yang katanya rasa indah. Telah memikat semua orang terhadapnya. Untuk senantiasa ikut dan larut dalam kenimatannya. Meskipun kenikmatan itu tak tentu berjalan mulus banyak resiko yang akan pendaki alami.

Perjalanan yang Panjang dan realitas sosial tak kunjung ada perubahan. Mereka larut dan berlari kegunung mencari sebuah kehangatan dan jawaban bagi pendaki. Karena relitas hidupnya tak menemukan kenyamanan dan arti dari perjuangan.

Seakan-akan kita hanyut olehnya dengan tawaran kecantikan gunung yang diberikannya. Berkalana sampai jauh tak terlihat. Sebenarnya kita hanya terperangkap saja dengan berbagai keindahan yang telah gunung berikan.

Walaupun kita tak pernah menayadarinya.
Keindahan dan kecantikannya telah memberikan daya pikat bagi pendaki. Namun apa daya kedua hal itu tidak selalu berjalan mulus. Banyak rintangan dan halowan bagi penulis yang senantiasa parah dalam perjalannya. Begitu berat dan tak berarti bagi pendaki jika dijalan telah digandrungi musibah. Tapi bukan hal itu saja berbagai kemungkinan pasti akan dihadapi.

Bebagai kemungkinan selalu saja dapat berubah dengan cepat. Kita dihadapkan dengan berbagai duri dan terjal ketika berkalana. Semuanya hanyalah rintangan yang senantiasa dituntut untuk bersikap hati-hati dalam menyikapi perjalanannya. Karena dengannyalah kita dapat selamat dan pulang. Lalu telah mendapatkan keindahan dan kecantikan itu.

Namun disini sangat berbeda ketika Nabi Muhammad menaikinya. Sebuah gunung Hira yang dekat dengan relitas kota mekah. Nabi pergi kegunung dengan merenung dan mendapatkan wahyu. Namun ketika Nabi pergi kegunung bukanlah tujuan untuk melihat keindahan dan kecantikan yang diberikan olehnya.

Berhari-hari Nabi tinggal disana. Merenungi berbagai realitas kehidupan yang tidak adil. Nabi dicaci maki dan diasingkan oleh kehidupan sosial yang dihadapinya. Kehidupan sosial yang begitu paradoks telah meberikan jalan untuk pergi kegunung. Lalu mencari jalan serta kebenaran terhadap masalah realitas kehidupan pada waktu itu.

Nabi mencari jawaban dan akhirnya pendapatkan wahyu. Sebagai seorang yang diasingkan dia cukup lama. Hingga wahyu pertama yang diberikan adalah membaca dan menulis. Yaitu iqra yang artinya mebaca. Serta kolam yang artinya menulis.

Dia membaca dan menulis terhadap realitas kehidupannya. Ia memikirkan tentang masalah sosial yang pada saat itu mekah berada pada keadaan yang cukup genting. Kebodohan dan perjudian serta penindasan terjadi olehnya.

Penindasan oleh Abu jahal sebagai penguasa mekah pada waktu itu. Telah melimpahkan harta yang begitu banyak. Ia disegani dan dihormati oleh masyarakat mekah. Dengan penghormatan yang dimilikinya. Dan kekuasaan serta harta yang dimilikinya telah menjadikannya ia kesewenagan terhadap rakyat. Mereka dilakukan penindasan  dan penghinaan terhdap kaum yang lemah. Dia dintindas dan tidak terhormat meskipun dalam keluarganyapun. Begitupun Nabi dicaci maki oleh abu jahal karena berpandangan yang berbeda. Dari situllah kenapa Nabi pergi kegunung yaitu memikirkan bahwa realitas sosial banyak problem.

Disini tentu penulispun sama dengannya. Bahwa pergi kegunung adalah suatu pralian terhadap kehidupan sosial yang deskriminatif. Kita tidak bisa dikecualikan bahwa bangsa kita ini dilanda oleh ketimpangan. Sikaya dan simiskin, daerah perkotaan dan pedesaan. Serta berbagai keserakahan yang dilakukan oleh sekelompok golongan elit.

Naik gunung ternyata bukanlah suatu tujuan untuk melihat keindahan serta betapa indahnya kecantikan alam. Akan tetapi pergi kegunung kita harus merenungkan berbagai kejadian yang kita hadapi sekarang. Penindasan yang dilakukan oleh penguasa mereka telah sewenangnya deskriminatif terhadapnya.

Segerombolan elit politik telah mengantarkan dan menindasan berbagai phenomena yang terjadi. Kita dihadapkan akan realitas tersebut. Jaangan tanggung bahwa penguasa yang menindas adalah sebuah ketindak adilan.

Kejadian semacam itu tak perlu kita khiraukan.
Pergi kegunung dan merenungkan bahwa ada jalan lain yang meski kita hadapi bersama. Dengan menaiknya tentu bakal ada jalan dan rintangan serta godaan yang akan kita hadapi kelak. Sebuah perjuangan kita sama banyak godaan dan rintangan yang ada dihadapan kita nanti.

Sebuah perjalan Panjang yang kita buat. Adalah sebuah jawaban terhadap ketidak pastian hidup ini. Karena baginya kehidupan adalah suatu yang kegetiran terhadap ketidakadilan dalam kehidupan. Manusia selalu ingin berkuasa dan kenyamanan lewat penindasan yang mereka alami terhadap berbagai persoalan yang terjadi.
Kita melihat kehidupan Nabi untuk pergi kegunung adalah sebuah pernyataan besar. Bahwa membaca realitas kehidupan sosial adalah perlu kita hadapi. Untuk masa depan yang bahagia serta menikmati kehidupan sosial seperti indahnya gunung.

Melihat kebahagian masyarakat sosial seperti melihat gunung. Meski jalan dan terjal akan selalu berhadapan. Kita tak mudah akan semua itu. Tapi perjuangan serta doa dari kita semua akan senantiasa dibangun demi masa depan yang cerah. Demi sebauh ikatan cinta akan sosial yang lebih baik dan sejahtra. Seperti gunug yang menjulang tinggi telah kita jalani bersama.

Kehidupan ini sangat layak untuk dijalani. Sampainya kita disana tak mungkin berbagai kemungkinan akan kita hadapi. Semuanya akan kita bangun dan semangat yang bergelora. Untuk sampai pada puncak yang memberkannya kebahagian serta kenikmatan yang semua rasakan. 

Comments