Skip to main content

Riview Buku, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis (Franz Magnis – Suseno)

Dokumen pribadi


Pertama penulis melihat buku tersebut menunjukan ketertarikan untuk membaca. Dengan melihat judulnya sendiri terkesan menarik. Hingga menaruh gaya penasaran untuk menulis. Dilihat dari judulnya termuat berbagai rahasia dan mendalam. Apalagi dengan judul kritis, mendengar kata itu tambah penasaran. Apakah betul-betul dalam buku tersebut menuai pemikiran kritis. Selanjuntnya jawabanya ada dalam tulisan ini. Hingga penulis akan menelah secara kritis terhadap bukunya. Pada akhirnya menemukan suatu kritik terhadap buku itu.

Filsafat merupakan suatu telaah pemikiran tentang hakikat segalanya. Dibalik hakikat terdalam ada pemikiran filsafat tentangnya. Persoalan itu akan dibahas secara rumit tentangnya. Dengan memikirkan tentang tuhan, alam dan kehidupan manusia sebagaimana seharusnya. Ketiga poko tersebut akan menjadi objek kajian dalam filsafat, Menemukan suatu kerenungan dalam makna yang sebenarnya. Jika kita lihat seorang filsuf Deridda. Dia menyebutkan teori tentang Bahasa. Yakni penanda dan petanda, penanda artinya dimaknai secara subjektif. Sedangkan petanda sebagai makna objektif pada dirinya.

Persoalan kedua hal itu adalah sebagai kacamata untuk merivew buku ini. Karena persoalan Bahasa makna yang terkadung dalam buku tersebut yang lebih objektif adalah penulisnya sendiri. Sedangkan penulis meriview buku ini lebih menginterpretasi lagi melihat berbagai literatur dan kacamata yang berbeda. Akan tetapi tidak akan membuang makna yang sebenarnya dalam bukunya.

Sedikit kebingungan dalam isi bab pertama, mengenai apakah benar filsafat adalah sebagai ilmu kritis. Atau bagaimana bisa dimungkinkan bahwa filsafat sabagai ilmu kritis. Atau hanya sebaliknya kritis sebagai ilmu filsafat. Pertanyaan itu, menandakan kejeliwetan dalam filsafat. Karena memang filsafat sangat jeliwet untuk dipelajari ataukah penulisnya sendiri yang ngejelasinnya kurang baik. Atau periview sekaligus pembaca yang memaknainya bahwa filsafat adalah sesuatu yang rumit dan susah untuk dipelajari. Karena dalam bab pertama ini menjelaskan tentang depinisi filsafat sebagai ilmu kritis.

Terkadang memang dalam filsafat sendiri sangat jeliwet susah untuk dipahami. Karena menurut penulis pun secara demikian bermaksud begitu. Seperti hal politik susah untuk dimungkinkan karena bebarbau kepentingan didalamnya. Akan tetapi jika dalam konteks politik kita bisa menemukan pusaran para elit politik bisa menelanjangi atas kepentingan dan berbagai pusaran arus. Filsafat menjawab persoalan itu. Apakah benar politik jika dipandang filsafat seperti itu. Apakah filsafat politik menjelaskan hal itu.

 Jika filsafat menjelaskan hal itu, lalu bagaimana kerja filsafat. Untuk menjawab persoalan itu. Lalu bagaimana mencari jawabanya. Mungkinkah kebenaran dalam filsafat dikuasai oleh para elit penguasa. Kita tak pernah bisa tau karena penulis pun males untuk mengetahuinya. Karena dalam persoalan politik selalu terdapat kebenaran yang disembunyikan. Bahkan dengan mati-matian merahasikan kebenaran itu. Penulis sangat gampang untuk mencontohkan dan gampang sekali untuk membuktikannya. Akan tetapi persoalan itu selalu diterkap jika penulis membuka kebenaran yang dirahasiakan oleh penguasa.

Begitupun ideologi sebagai alat penguasa. Jika menurut Karl Marx dia mengatakan seperti itu. Karena basis struktur dikuasai oleh supra struktur. Melihat kacamata Marx sendiri. Kita tidak bisa dipungkiri ideolog. Bahkan lebih radikalnya lagi pandangan marx idiologi adalah alat penguasa untuk mempertahankanya. Akan tetapi berbeda dalam kacamata para pilsuf. Filsafat politik merupakan suatu upaya untuk merubah keadaan masyarakat untuk lebih baik. Meskipun “dibunuh ideologi yang lain” jika menurut Nadzi. Karena jika ada ideologi yang lain akan memperlambat kearah kemajuan yang lebih baik.

Melihat fenomena seperti itu selalu berkontradiksi dengan etika. Jika kita memahaminya dengan kacamata nadzi jika seperti berlainan dengan atika. Jika etika membahas itu baik dan buruk sedang ukurannya seperti apa. Menafsirkan kedua hal itu, karena dapat dimungkin subjektif mengartikannya. Oleh karena itu, baik dan buruk selalu kontra diksi dalam kehidupan kita. Misalnya ada orang lain yang menerangkan membaca dengan baik. Pertanyaanya apakah membaca buku etika. Disinilah ada masalah dalam pernyataan itu. Jika menurut Hobbes mengatakan orang-orang selalu mengikuti adat istiadat. Karena itulah kita terkerangkeng oleh adat kebudayaan itu sendiri hingga turun menurun. Etika dipandang sebagai sesuatu yang baik tergantung yang mendominasinya.

Pada akhirnya etika akan mengikuti adat istiadat yang secara turun temurun dilakukan. Begitupun dengan norma-norma yang dilakukan secara konsesus oleh adatnya. Meskipun disini adat tradisional yang mempertahankan budaya tersebut. Meski tidak ada argumentasi rasional yang dilakukan. Disinilah letak keliru yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Jika kita melihat jaman Yunani kaum sofisme dan skeptisisme dilawan oleh Aristoteles. Antinaturalisme dilawan oleh Thomas Aquinas, Dogmatisme dilawan oleh Thomas Hobbes. Dengan begitu mereka dapat melihat bahwa etika dan norma-norma hanya dipsang oleh masyarakat yang mendominasi.

Kemudian untuk menuju masyarakat yang lebih baik. Tidak terjebak dalam metafisik Yunani, dogmatis dan tradisional. Munculllah Renaissance yaitu permulaan muncul masyarakat modern. Yang sedikit demi sedikit mengatur tentang way of life. Dengan ciri-ciri seperti berikut. Pertama, Masyarakat munculnya idustrialisasi hingga pekerjaan manusia bisa diserahkan kepada mesin, robot, dls. Kedua, menerangi dengan mesin-mesin hingga dapat berkomunikasi regional, nasional bahkan internasional. Cirinya dalam masyarakat modern bisa berkomunikasi dari berbagai wilayah. Kemudian bisa dikatakan dengan mayarakat informasi. Ketiga, manusia tidak tergantung lagi dengan alam. Keempat, dicirikan dengan perubahan seperti berfikir dan menentukan nasibnya sendiri.

Kemudian bagaimana penemuan bahwa itu adalah masyarakat modern. Di Eropa abad ke – 15 sebagai penemuan pra syarat adanya renaissance. Dengan tiga penemuan yang terbesar dalam jamannya. Kapitalisme dan revolusi industry, subjektivitas modern dan rasionalisme. Bahkan beberapa filsuf pasca renaissance seperti Rene Descartes (1596-1650), Thomas Hobbes (1588-1679), John Lock (1632-1704), David Hume (1711-1776), Jean Jacques Rausseau (1712-1776).

Disini penulis tidak akan menjelaskan seluruh pemikiran filsuf tersebut. Akan tetapi penulis lebih tertarik kepada Rausseau karena dia lebih focus pada persoalan politik. Karena dia menemukan suatu jawaban konsepsi-konsepsi besar tentang bagaimana masyarat seharusnya. Seperti platon tentang konsepsi negara dan Thomas berfikir tentang itu. Menurutnya negara bertindak dan melakukan wewenang tentang hokum kodrat. Dan lock menghasilkan tentang negara konstitusional. Bahkan Hegel mendewakan negara sampai Marx mengkritik konsepsi negara. Pemikiran merekalah yang sampai sekarang berpengaruh dibelahan dunia. DeKngan kekuatan mereka keadaan masyarakat berubah menjadi lebih baik. Karena titik tekanya adalah bukan hanya soal kenegaraan melainkan. Ekonomi, politik dan social mampu merumuskan masalah tersebut. Hingga pada akhirnya di negara Indonesia yang memakai Pancasila. Yang memuat secara mendasar hakikat dan filosofis.

Pada tanggal 31 Mei 1945 dalam rapat BPUPKI supomo menjelaskan pikirannya tentang negara integral. Yaitu mengkonsep negara sesuai dengan konteks negara Indonesia. Apa yang dimaksud dengan negara integral adalah menyusun suatu rumusan kenagaraan dengan berlandaskan keperibadian negara Indonesia.

Tapi hal itu, penulis tidak akan bahas secara mendalam. Tapi yang lebih penting dalam 500 tahun terakhir filsuf yang sangat besar adalah Imanuel Kant (1724-1804). Dengan sangat tajam dia mengkritik para filsuf baik empirisme atau rasionalisme. Bahkan dia membedakan antara hokum dan moralitas. Menurutnya hukum adalah tatanan normatif secara natural dalam masyarakat. Akan tetapi natural disini secara lahiriah ada dalam masyarakat seperti hukum adat. Akan Kant sendiri yang mengkritiknya bahwa hukum belum berkualitas moral. Moral merupakan suatu kesadaran secara inhern ada dalam diri manusia. Tapi bagi Kant moral harus berpusat pada otonom. Tapi persoalan inipun dikritik oleh Hegel karena Kant menurutnya masih abstrak.

Bagi Hegel perkembangan sejarah manusia itu secara dealektis. Hingga dia memaparkan bagaimana hadirnya agama keristen. Menurutnya lahirnya agama paham pertama munculnya subjektivitas. Menurutnya manusia memahami alam itu muncul dalam diri manusia. Lewat kesadarannya manusia menafsirkan segala realitas. Karena nilai manusia diukur secara batiniyah. Meskipun kesadaran itu masih abstrak tetap kebenaran manusia ada dalam diri manusia. Oleh karena itu, Hegel yang sebagai pendobrak agama protestan. Karena itu, dia berpandangan tafsiran terhadap kitab suci boleh ditafsirkan lewat setiap subjek manusia tidak terjebak oleh tafsiran tokoh gereja.

Yang paling utama dalam revolusi prancis adalah menuju kemerdekaan dan pembebasan manusia. Kemerdekan dalam revolusi prancis adalah otonomi para warganya hingga subjek yang bebas. Sesuai hak asasi manusia secara individu-individu yang merdeka. Disitu tidak ada suatu kekangan apapun melainkan ditunjang dalam kebebsannya.

Menurut Karl Marx kebebasan diartikan sebagai pembebasan kelas. Meskipun Marx sendiri terpengaruhi pemikiran Hegel tapi dia berbeda dalam pemikirannya yaitu matrealisme. Dia melihat bahwa kesadaran manusia ditentukan oleh pengalaman. Karena dari realitas tersebut membentuk suatu kesadaran yang imanen dalam diri subjek. Dia menginginkan keadaan masyarakat tanpa kelas. Karena bagi dia, bentuk masyarakat itu terbagi dua. Yaitu kelas proletar dan borjuis. Bentuk masyarakat seperti itulah yang bagi Marx menimbulkan ketidakadilan. Karena itu, bagi Hegel sendiri memuaskan kebutuhan individu-individu. Karena itulah negara menurut Hegel adalah tujuan kehidupan manusia, Sedang individu didalamnya adalah unsur. Hal seperti itulah yang dikritik pedas oleh Marx. pertama, Membalikan tatanan yang dijelaskan oleh Hegel. Menurut Marx masyarakat luas merupakan tujuan utama. Karena itu, masyarakat dan negara adalah realitas terpisah. Maka hal itulah pada akhirnya akan selesai tanpa negara. Oleh karena itu, negara sebagai subjek dan masyarakat sebagai objek.

Secara historis perkembangan manusia sejarah kelas. Seperti yang dijelaskan diatas. Untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas. Karena itulah sejarah manusia bagi Marx adalah pertentangan kelas. Dia menolak seluruh moralitas yang otonom. Karena dia beranggapan sebagai penilaian-penilaian subjek manusia. Dari situlah pemikiran tentang antropologis muncul. Landasan pemikiran dia secara fundamental disini. Harkat dan hakikat manusia adalah pekerjaannya sendiri. Meskipun pemikiran dia seperti tadi diatas dijelaskan dipengaruhi oleh Hegel dan Feuerbach. Meskipun itu secara metafisik pada dasarnya hingga dijelaskan secara empirik oleh Marx. Bahwa manusia harus mengobjektifkan dirinya. Karena dia harus menyesuaikan kehidupan manusia. Hakikat manusia itu kerja dan merelasikan dengan alam lewatnya. Matrealisme historis sebagai intinya adalah pembebasan, modal dan keterasingan. Hingga memahaminya tentang tenaga produksi dan hubungan produksi.

Pemikiran dasar Marx dalam suatu teorinya yaitu perubahan social bisa terjadi lewat jalan revolusi. Lewat jalan satu-satunya lah yang akan merubah tatanan masyarakat. Dia menganalisis secara kritis lewat hubungan produksi. Hingga bagaimana kapitalisme bekerja lewat agitasi politik dan propaganda. Untuk mewujudkan merubah segala struktur tersebut diubah secara prinsipil lewat perbaikan-perbaikan. Lewat problem hal itu, dia menganalisis tentang kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi. Semua hal itu hal itu harus dihapuskan. Karena hal itu, bagian dari system. Karena itulah dia menulis buku yang fenomenal yaitu “Das Kapital”.

Dalam periode selanjutnya akhirnya Marx menuai banyak kritik. Sampai sekarang terutama oleh Mazhab kritis terutama oleh aliran Frankfurt. Aliran tesebut sangat dipengaruhi oleh aliran besar dalam filsafat. Yaitu Fenomenologi, Eksistensialisme, NeooThomisme, Analistis dan Neomarxisme. Hingga tokoh-tokohnya seperti Max Horkheimer (1895-1973) dan Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969). Dalam yang lebih penting adalah Herbert Marcuse (1898-1979). Sampai pada Jurgen Habermas menyusun teori kritis dealektika.

Corak teori kritis lebih bercorak teori tidak kepada revolusi. Meskipun cikal bakal teori tersebut asal dari Marx tentang masyarakat. Coraknya yang berpusat pada masyarakat. Akan tetapi teori kritis juga sangat mengkritik gagasan Marx. Baik itu tentang keadilan atau penghisapan. Persoalan tersebut dimulai sejak mahasiswa perancis tentang kritik terhadap masyarakat. Sehingga pada akhirnya kelas-kelas itulah seharusnya memberontak. Sampai pada tahap pencerahan. Bagiamana seorang proletary menemukan materialnya. Tapi disini agak kebingungan karena kerangka pemikiran tersebut tak pernah sistematis. Yang menjadi pertanyaan apakah dehumanisasi dan denaturalisasi itu sebagai proyeknya. Karena ciri dari pada itu adalah bukan mengkritik kelebihan dan kekurangannya melainkan seluruh pemikiran yang tertuang didalamnya. Hingga membuka irasionalitas dalam kritiknya.

Maka disini teori tersebut menolak revolusi. Karena menurutnya revolusi hanya mengakibatkan perbudakan seperti di prancis. Dari revolusi tersebut malahan melahirkan kebingasan dan jauh dari kemanusian. Hingga pada akhirnya teori tersebut meski berangkat dari analisis Marx terhadap masyarakat pada akhirnya meninggalkan pemikirannya. Dan gagal dalam proyeksinya tersebut. Hingga terjun kedalam pesimisme hanya bisa keluar dari dogma Marxisme. Bahwa penghisapan dan penindasan tidak akan total hilang. Karena menurut Jurgen Habermas karena itu adalah sesuatu yang natural dalam diri manusia. Lahirnya kapitalisme menurutnya adalah suatu yang lahiriah dan kodrati ada dalam naluriah manusia seperti itu. Karena yang membedakan adalah hasil kerjanya. Dalam peroses kerja manusia selalu berbeda dalam hasil kerjanya. Maka itulah yang disebut Habermas sebagai hal kodrati dalam kehidupan manusia.

Selanjutnya kita akan masuk kepada pemikiran Jurgen Habermas yang menurut penulis sangat penting terkait kelanjutan teori kritis dewasa ini. Dia berasal dari jerman serasa untuk masuk terhadap pemikirannya dan melaah sampai terdalam. Filsafat kritis Jurgen Habermas ini juga muncul terinspirasi dari pemikiran Marx. Dia mengkritik segala macam struktur hubungan yang terdapat dalam penghisapan dan penindasan. Teori tersebut telah mengatrkan bahwa kita melihat realitas sosial harus bertanggungjawab. Tapi dia tidak mau menjadi sebuah ideologi perjuangan tapi bersifat teoritis. Yang mewujudkan tindakan masyarakat yang nyata. Akan tetapi para aliran tersebut menolak sebagai guru. Apalagi guru yang di ‘dewa’kannya tidak memberikan wejangan tentang revolusi. Pemberontakan mahasiswa (1965-1975) menginginkan revolusi akhirnya kecewa.

Aliran pemikiran kritis dewasa ini, mulai tokoh Georg Lukacs, Karl Korsh, Ernst Bloch, Antonio Gramci dls. Ciri yang sangat melakat pada teori kritis masyarakat adalah Historis dan matrealis. Jika secara historis melihat sejarah bahwa sejarah adalah dibuat oleh manusia. Maka penindasan itu sendiri lahir dari sejarah. Sedangkan Matrealistik bahwa kita tahu bahwa realitaslah yang bergerak. Habermas mengbokar teori Marx bahwa system kapitalis adalah alamiah dan abadi. Kemudian pemikiran tersebut dikembangkan oleh psikoanalisa.

Yang paling poko dalam gagasan Habermas yaitu; Pertama, Positivisme logis ditolak olehnya. Karena itu penyataan tentang fisika adalah persoalan empiris. Kedua, masalah basis yang ditimbulkan oleh pengamatan langsung. Ketiga, Masalah social harus ditetapkan secara metodis.

Yang menjadi kritik Habermas terhadap Marx ialah bahwa pengetahuan itu selalu kontradiksi sesuai apa yang dikatakan oleh Kant. Manusia sebelum ia mengetahui harus dulu mengetahui. Kemudian Marx berpandangan manusia itu sebagai objek oleh karenanya dia bekerja. Meski subjek dan objek direalisasikan manusia dan dunia tetap ada dalam satu kesatuan terpisah meskipun dengan kerja.

Sebanarnya tidak ada kerjaan dalam menulis tulisan ini. Secara sepintas penulis menulisnya karena dia sangat bosan. Dari pada menjadi kaum rebahan mendingan meriview buku yang telah dibaca. Karena penulispun tau bahwa Buku tersebut sangat luar biasa meskipun hanya sebagai pengatar menurut pandangan penulis. Karena tidak termuat secara mendalam terkait pemikiran para filsuf.
Semangkuyyyy….


Comments