| Dokumen pribadi |
Pertama penulis melihat buku tersebut
menunjukan ketertarikan untuk membaca. Dengan melihat judulnya sendiri terkesan
menarik. Hingga menaruh gaya penasaran untuk menulis. Dilihat dari judulnya
termuat berbagai rahasia dan mendalam. Apalagi dengan judul kritis, mendengar
kata itu tambah penasaran. Apakah betul-betul dalam buku tersebut menuai
pemikiran kritis. Selanjuntnya jawabanya ada dalam tulisan ini. Hingga penulis
akan menelah secara kritis terhadap bukunya. Pada akhirnya menemukan suatu
kritik terhadap buku itu.
Filsafat merupakan suatu telaah pemikiran
tentang hakikat segalanya. Dibalik hakikat terdalam ada pemikiran filsafat
tentangnya. Persoalan itu akan dibahas secara rumit tentangnya. Dengan
memikirkan tentang tuhan, alam dan kehidupan manusia sebagaimana seharusnya. Ketiga
poko tersebut akan menjadi objek kajian dalam filsafat, Menemukan suatu
kerenungan dalam makna yang sebenarnya. Jika kita lihat seorang filsuf Deridda.
Dia menyebutkan teori tentang Bahasa. Yakni penanda dan petanda, penanda
artinya dimaknai secara subjektif. Sedangkan petanda sebagai makna objektif
pada dirinya.
Persoalan kedua hal itu adalah
sebagai kacamata untuk merivew buku ini. Karena persoalan Bahasa makna yang
terkadung dalam buku tersebut yang lebih objektif adalah penulisnya sendiri.
Sedangkan penulis meriview buku ini lebih menginterpretasi lagi melihat berbagai
literatur dan kacamata yang berbeda. Akan tetapi tidak akan membuang makna yang
sebenarnya dalam bukunya.
Sedikit kebingungan dalam isi bab
pertama, mengenai apakah benar filsafat adalah sebagai ilmu kritis. Atau bagaimana
bisa dimungkinkan bahwa filsafat sabagai ilmu kritis. Atau hanya sebaliknya
kritis sebagai ilmu filsafat. Pertanyaan itu, menandakan kejeliwetan dalam
filsafat. Karena memang filsafat sangat jeliwet untuk dipelajari ataukah
penulisnya sendiri yang ngejelasinnya kurang baik. Atau periview sekaligus
pembaca yang memaknainya bahwa filsafat adalah sesuatu yang rumit dan susah untuk
dipelajari. Karena dalam bab pertama ini menjelaskan tentang depinisi filsafat
sebagai ilmu kritis.
Terkadang memang dalam filsafat
sendiri sangat jeliwet susah untuk dipahami. Karena menurut penulis pun secara
demikian bermaksud begitu. Seperti hal politik susah untuk dimungkinkan karena
bebarbau kepentingan didalamnya. Akan tetapi jika dalam konteks politik kita
bisa menemukan pusaran para elit politik bisa menelanjangi atas kepentingan dan
berbagai pusaran arus. Filsafat menjawab persoalan itu. Apakah benar politik
jika dipandang filsafat seperti itu. Apakah filsafat politik menjelaskan hal
itu.
Jika filsafat menjelaskan hal itu, lalu
bagaimana kerja filsafat. Untuk menjawab persoalan itu. Lalu bagaimana mencari
jawabanya. Mungkinkah kebenaran dalam filsafat dikuasai oleh para elit
penguasa. Kita tak pernah bisa tau karena penulis pun males untuk mengetahuinya.
Karena dalam persoalan politik selalu terdapat kebenaran yang disembunyikan.
Bahkan dengan mati-matian merahasikan kebenaran itu. Penulis sangat gampang
untuk mencontohkan dan gampang sekali untuk membuktikannya. Akan tetapi
persoalan itu selalu diterkap jika penulis membuka kebenaran yang dirahasiakan
oleh penguasa.
Begitupun ideologi sebagai alat
penguasa. Jika menurut Karl Marx dia mengatakan seperti itu. Karena basis
struktur dikuasai oleh supra struktur. Melihat kacamata Marx sendiri. Kita
tidak bisa dipungkiri ideolog. Bahkan lebih radikalnya lagi pandangan marx
idiologi adalah alat penguasa untuk mempertahankanya. Akan tetapi berbeda dalam
kacamata para pilsuf. Filsafat politik merupakan suatu upaya untuk merubah
keadaan masyarakat untuk lebih baik. Meskipun “dibunuh ideologi yang lain” jika
menurut Nadzi. Karena jika ada ideologi yang lain akan memperlambat kearah kemajuan
yang lebih baik.
Melihat fenomena seperti itu selalu
berkontradiksi dengan etika. Jika kita memahaminya dengan kacamata nadzi jika
seperti berlainan dengan atika. Jika etika membahas itu baik dan buruk sedang
ukurannya seperti apa. Menafsirkan kedua hal itu, karena dapat dimungkin
subjektif mengartikannya. Oleh karena itu, baik dan buruk selalu kontra diksi
dalam kehidupan kita. Misalnya ada orang lain yang menerangkan membaca dengan
baik. Pertanyaanya apakah membaca buku etika. Disinilah ada masalah dalam pernyataan
itu. Jika menurut Hobbes mengatakan orang-orang selalu mengikuti adat istiadat.
Karena itulah kita terkerangkeng oleh adat kebudayaan itu sendiri hingga turun
menurun. Etika dipandang sebagai sesuatu yang baik tergantung yang
mendominasinya.
Pada akhirnya etika akan mengikuti
adat istiadat yang secara turun temurun dilakukan. Begitupun dengan norma-norma
yang dilakukan secara konsesus oleh adatnya. Meskipun disini adat tradisional
yang mempertahankan budaya tersebut. Meski tidak ada argumentasi rasional yang
dilakukan. Disinilah letak keliru yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Jika kita
melihat jaman Yunani kaum sofisme dan skeptisisme dilawan oleh Aristoteles. Antinaturalisme
dilawan oleh Thomas Aquinas, Dogmatisme dilawan oleh Thomas Hobbes. Dengan begitu
mereka dapat melihat bahwa etika dan norma-norma hanya dipsang oleh masyarakat
yang mendominasi.
Kemudian untuk menuju masyarakat
yang lebih baik. Tidak terjebak dalam metafisik Yunani, dogmatis dan tradisional.
Munculllah Renaissance yaitu permulaan muncul masyarakat modern. Yang sedikit
demi sedikit mengatur tentang way of life. Dengan ciri-ciri seperti
berikut. Pertama, Masyarakat munculnya idustrialisasi hingga pekerjaan
manusia bisa diserahkan kepada mesin, robot, dls. Kedua, menerangi
dengan mesin-mesin hingga dapat berkomunikasi regional, nasional bahkan
internasional. Cirinya dalam masyarakat modern bisa berkomunikasi dari berbagai
wilayah. Kemudian bisa dikatakan dengan mayarakat informasi. Ketiga, manusia
tidak tergantung lagi dengan alam. Keempat, dicirikan dengan perubahan
seperti berfikir dan menentukan nasibnya sendiri.
Kemudian bagaimana penemuan bahwa
itu adalah masyarakat modern. Di Eropa abad ke – 15 sebagai penemuan pra syarat
adanya renaissance. Dengan tiga penemuan yang terbesar dalam jamannya.
Kapitalisme dan revolusi industry, subjektivitas modern dan rasionalisme. Bahkan
beberapa filsuf pasca renaissance seperti Rene Descartes (1596-1650), Thomas
Hobbes (1588-1679), John Lock (1632-1704), David Hume (1711-1776), Jean Jacques
Rausseau (1712-1776).
Disini penulis tidak akan
menjelaskan seluruh pemikiran filsuf tersebut. Akan tetapi penulis lebih
tertarik kepada Rausseau karena dia lebih focus pada persoalan politik. Karena
dia menemukan suatu jawaban konsepsi-konsepsi besar tentang bagaimana masyarat
seharusnya. Seperti platon tentang konsepsi negara dan Thomas berfikir tentang
itu. Menurutnya negara bertindak dan melakukan wewenang tentang hokum kodrat. Dan
lock menghasilkan tentang negara konstitusional. Bahkan Hegel mendewakan negara
sampai Marx mengkritik konsepsi negara. Pemikiran merekalah yang sampai
sekarang berpengaruh dibelahan dunia. DeKngan kekuatan mereka keadaan
masyarakat berubah menjadi lebih baik. Karena titik tekanya adalah bukan hanya
soal kenegaraan melainkan. Ekonomi, politik dan social mampu merumuskan masalah
tersebut. Hingga pada akhirnya di negara Indonesia yang memakai Pancasila. Yang
memuat secara mendasar hakikat dan filosofis.
Pada tanggal 31 Mei 1945 dalam rapat
BPUPKI supomo menjelaskan pikirannya tentang negara integral. Yaitu mengkonsep
negara sesuai dengan konteks negara Indonesia. Apa yang dimaksud dengan negara
integral adalah menyusun suatu rumusan kenagaraan dengan berlandaskan keperibadian
negara Indonesia.
Tapi hal itu, penulis tidak akan
bahas secara mendalam. Tapi yang lebih penting dalam 500 tahun terakhir filsuf
yang sangat besar adalah Imanuel Kant (1724-1804). Dengan sangat tajam dia
mengkritik para filsuf baik empirisme atau rasionalisme. Bahkan dia membedakan
antara hokum dan moralitas. Menurutnya hukum adalah tatanan normatif secara
natural dalam masyarakat. Akan tetapi natural disini secara lahiriah ada dalam
masyarakat seperti hukum adat. Akan Kant sendiri yang mengkritiknya bahwa hukum
belum berkualitas moral. Moral merupakan suatu kesadaran secara inhern ada
dalam diri manusia. Tapi bagi Kant moral harus berpusat pada otonom. Tapi
persoalan inipun dikritik oleh Hegel karena Kant menurutnya masih abstrak.
Bagi Hegel perkembangan sejarah
manusia itu secara dealektis. Hingga dia memaparkan bagaimana hadirnya agama
keristen. Menurutnya lahirnya agama paham pertama munculnya subjektivitas.
Menurutnya manusia memahami alam itu muncul dalam diri manusia. Lewat
kesadarannya manusia menafsirkan segala realitas. Karena nilai manusia diukur
secara batiniyah. Meskipun kesadaran itu masih abstrak tetap kebenaran manusia
ada dalam diri manusia. Oleh karena itu, Hegel yang sebagai pendobrak agama
protestan. Karena itu, dia berpandangan tafsiran terhadap kitab suci boleh
ditafsirkan lewat setiap subjek manusia tidak terjebak oleh tafsiran tokoh
gereja.
Yang paling utama dalam revolusi
prancis adalah menuju kemerdekaan dan pembebasan manusia. Kemerdekan dalam
revolusi prancis adalah otonomi para warganya hingga subjek yang bebas. Sesuai
hak asasi manusia secara individu-individu yang merdeka. Disitu tidak ada suatu
kekangan apapun melainkan ditunjang dalam kebebsannya.
Menurut Karl Marx kebebasan
diartikan sebagai pembebasan kelas. Meskipun Marx sendiri terpengaruhi pemikiran
Hegel tapi dia berbeda dalam pemikirannya yaitu matrealisme. Dia melihat bahwa kesadaran
manusia ditentukan oleh pengalaman. Karena dari realitas tersebut membentuk
suatu kesadaran yang imanen dalam diri subjek. Dia menginginkan keadaan
masyarakat tanpa kelas. Karena bagi dia, bentuk masyarakat itu terbagi dua.
Yaitu kelas proletar dan borjuis. Bentuk masyarakat seperti itulah yang bagi Marx
menimbulkan ketidakadilan. Karena itu, bagi Hegel sendiri memuaskan kebutuhan
individu-individu. Karena itulah negara menurut Hegel adalah tujuan kehidupan
manusia, Sedang individu didalamnya adalah unsur. Hal seperti itulah yang
dikritik pedas oleh Marx. pertama, Membalikan tatanan yang dijelaskan
oleh Hegel. Menurut Marx masyarakat luas merupakan tujuan utama. Karena itu,
masyarakat dan negara adalah realitas terpisah. Maka hal itulah pada akhirnya
akan selesai tanpa negara. Oleh karena itu, negara sebagai subjek dan
masyarakat sebagai objek.
Secara historis perkembangan manusia
sejarah kelas. Seperti yang dijelaskan diatas. Untuk mewujudkan masyarakat
tanpa kelas. Karena itulah sejarah manusia bagi Marx adalah pertentangan kelas.
Dia menolak seluruh moralitas yang otonom. Karena dia beranggapan sebagai
penilaian-penilaian subjek manusia. Dari situlah pemikiran tentang antropologis
muncul. Landasan pemikiran dia secara fundamental disini. Harkat dan hakikat
manusia adalah pekerjaannya sendiri. Meskipun pemikiran dia seperti tadi diatas
dijelaskan dipengaruhi oleh Hegel dan Feuerbach. Meskipun itu secara metafisik
pada dasarnya hingga dijelaskan secara empirik oleh Marx. Bahwa manusia harus
mengobjektifkan dirinya. Karena dia harus menyesuaikan kehidupan manusia.
Hakikat manusia itu kerja dan merelasikan dengan alam lewatnya. Matrealisme historis
sebagai intinya adalah pembebasan, modal dan keterasingan. Hingga memahaminya
tentang tenaga produksi dan hubungan produksi.
Pemikiran dasar Marx dalam suatu
teorinya yaitu perubahan social bisa terjadi lewat jalan revolusi. Lewat jalan
satu-satunya lah yang akan merubah tatanan masyarakat. Dia menganalisis secara
kritis lewat hubungan produksi. Hingga bagaimana kapitalisme bekerja lewat
agitasi politik dan propaganda. Untuk mewujudkan merubah segala struktur tersebut
diubah secara prinsipil lewat perbaikan-perbaikan. Lewat problem hal itu, dia
menganalisis tentang kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi. Semua hal itu
hal itu harus dihapuskan. Karena hal itu, bagian dari system. Karena itulah dia
menulis buku yang fenomenal yaitu “Das Kapital”.
Dalam periode selanjutnya akhirnya
Marx menuai banyak kritik. Sampai sekarang terutama oleh Mazhab kritis terutama
oleh aliran Frankfurt. Aliran tesebut sangat dipengaruhi oleh aliran
besar dalam filsafat. Yaitu Fenomenologi, Eksistensialisme, NeooThomisme,
Analistis dan Neomarxisme. Hingga tokoh-tokohnya seperti Max Horkheimer
(1895-1973) dan Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969). Dalam yang lebih
penting adalah Herbert Marcuse (1898-1979). Sampai pada Jurgen Habermas
menyusun teori kritis dealektika.
Corak teori kritis lebih bercorak
teori tidak kepada revolusi. Meskipun cikal bakal teori tersebut asal dari Marx
tentang masyarakat. Coraknya yang berpusat pada masyarakat. Akan tetapi teori
kritis juga sangat mengkritik gagasan Marx. Baik itu tentang keadilan atau
penghisapan. Persoalan tersebut dimulai sejak mahasiswa perancis tentang kritik
terhadap masyarakat. Sehingga pada akhirnya kelas-kelas itulah seharusnya
memberontak. Sampai pada tahap pencerahan. Bagiamana seorang proletary menemukan
materialnya. Tapi disini agak kebingungan karena kerangka pemikiran tersebut
tak pernah sistematis. Yang menjadi pertanyaan apakah dehumanisasi dan
denaturalisasi itu sebagai proyeknya. Karena ciri dari pada itu adalah bukan
mengkritik kelebihan dan kekurangannya melainkan seluruh pemikiran yang
tertuang didalamnya. Hingga membuka irasionalitas dalam kritiknya.
Maka disini teori tersebut menolak
revolusi. Karena menurutnya revolusi hanya mengakibatkan perbudakan seperti di
prancis. Dari revolusi tersebut malahan melahirkan kebingasan dan jauh dari
kemanusian. Hingga pada akhirnya teori tersebut meski berangkat dari analisis
Marx terhadap masyarakat pada akhirnya meninggalkan pemikirannya. Dan gagal
dalam proyeksinya tersebut. Hingga terjun kedalam pesimisme hanya bisa keluar
dari dogma Marxisme. Bahwa penghisapan dan penindasan tidak akan total hilang.
Karena menurut Jurgen Habermas karena itu adalah sesuatu yang natural dalam
diri manusia. Lahirnya kapitalisme menurutnya adalah suatu yang lahiriah dan
kodrati ada dalam naluriah manusia seperti itu. Karena yang membedakan adalah
hasil kerjanya. Dalam peroses kerja manusia selalu berbeda dalam hasil
kerjanya. Maka itulah yang disebut Habermas sebagai hal kodrati dalam kehidupan
manusia.
Selanjutnya kita akan masuk kepada
pemikiran Jurgen Habermas yang menurut penulis sangat penting terkait
kelanjutan teori kritis dewasa ini. Dia berasal dari jerman serasa untuk masuk
terhadap pemikirannya dan melaah sampai terdalam. Filsafat kritis Jurgen
Habermas ini juga muncul terinspirasi dari pemikiran Marx. Dia mengkritik
segala macam struktur hubungan yang terdapat dalam penghisapan dan penindasan.
Teori tersebut telah mengatrkan bahwa kita melihat realitas sosial harus
bertanggungjawab. Tapi dia tidak mau menjadi sebuah ideologi perjuangan tapi
bersifat teoritis. Yang mewujudkan tindakan masyarakat yang nyata. Akan tetapi
para aliran tersebut menolak sebagai guru. Apalagi guru yang di ‘dewa’kannya
tidak memberikan wejangan tentang revolusi. Pemberontakan mahasiswa (1965-1975)
menginginkan revolusi akhirnya kecewa.
Aliran pemikiran kritis dewasa ini,
mulai tokoh Georg Lukacs, Karl Korsh, Ernst Bloch, Antonio Gramci dls. Ciri
yang sangat melakat pada teori kritis masyarakat adalah Historis dan matrealis.
Jika secara historis melihat sejarah bahwa sejarah adalah dibuat oleh manusia.
Maka penindasan itu sendiri lahir dari sejarah. Sedangkan Matrealistik bahwa
kita tahu bahwa realitaslah yang bergerak. Habermas mengbokar teori Marx bahwa system
kapitalis adalah alamiah dan abadi. Kemudian pemikiran tersebut dikembangkan
oleh psikoanalisa.
Yang paling poko dalam gagasan
Habermas yaitu; Pertama, Positivisme logis ditolak olehnya. Karena itu
penyataan tentang fisika adalah persoalan empiris. Kedua, masalah basis
yang ditimbulkan oleh pengamatan langsung. Ketiga, Masalah social harus
ditetapkan secara metodis.
Yang menjadi kritik Habermas
terhadap Marx ialah bahwa pengetahuan itu selalu kontradiksi sesuai apa yang
dikatakan oleh Kant. Manusia sebelum ia mengetahui harus dulu mengetahui.
Kemudian Marx berpandangan manusia itu sebagai objek oleh karenanya dia
bekerja. Meski subjek dan objek direalisasikan manusia dan dunia tetap ada
dalam satu kesatuan terpisah meskipun dengan kerja.
Sebanarnya tidak ada kerjaan dalam
menulis tulisan ini. Secara sepintas penulis menulisnya karena dia sangat bosan.
Dari pada menjadi kaum rebahan mendingan meriview buku yang telah dibaca.
Karena penulispun tau bahwa Buku tersebut sangat luar biasa meskipun hanya
sebagai pengatar menurut pandangan penulis. Karena tidak termuat secara
mendalam terkait pemikiran para filsuf.
Semangkuyyyy….
Comments
Post a Comment