![]() |
| Facebook/Fauzan Anwar II |
Oleh : Hendi Supriatna[1]
Mendengar
seorang Aghar Ali Enginering adalah seorang penulis. Dia menulis lebih dari
lima puluh buku dalam sejarahnya. Hingga tulisan baik populer atau artikel
ilmiah. India tempatnya menjadi sebuah pembebasan masyarakat. Yang paling
populer yaitu tentang Liberation Theology (teologi pembebasan). Disini
ada suatu pandangan yang menarik untuk dikaji. Benarkan Nabi Muhammad seorang
pembebas.
Lalu
pembebasan seperti apa yang dilakukan oleh Muhammad. Pandangan Asghar Ali
bercakup disini. Melihat dari keadaan sosial masyarakat mekah. Nabi melihat
keadaan sosial masyarkat yang waktu itu dianggap bodoh, kemiskinan,
terbelakang, permusuhan, perbudakan dan seksualitas yang tinggi.
Melihat
fenomena tersebut, Asghar Ali membaca kondisi tersebut. Bahwa Nabi membebaskan
keadaan masyarakat seperti itu. Lalu yang menjadi pertanyaan besar dengan
kondisi mekah yang seperti itu. Malah Nabi pergi dari kota tersebut. Dan memilih
untuk berdiam diri di gua khiro. Kenapa Nabi pergi keguha hiro tidak pergi ke
Indonesia atau kegarut. Lalu memilih berdiam diri disana dan merenungkan
berbagai masalah keadaan mekah.
Setelah
itu, Merenung berhari-hari lalu mendapatkan mukjizat yaitu al-Quran.
Apakah menadapatkan mukjizat itu dari langit (secara transcendental)
atau dari hasil renungan keadaan masyarakat yang menuai banyak masalah waktu
itu. Seperti kebodohan, perbudakan, pembunuhan dan tidak mengenal isalm.
Dari
kondisi sosial , politik dan agama waktu itu sangat memprihatinkan. Banyak anak
perempuan dibunuh, diperkosa dan dijadikan sebagai budak. Bisa disebut dengan
kejahiliyahan masyarakat mekah. Dengan belum mengenal baca tulis atau kalau
sekarang ilmiah. Budaya baca tulis pada waktu itu belum mengenal. Hanya saja
ada budaya lisan.
Kemudian
yang lebih keji lagi adalah posisi perempuan. Waktu itu, hanya sebagai hasrat
nafsu semata. Wanita dijadikan perbudakan dan alat sek yang menjadi budaya
pemuas belaka. Lalu wanita menjadi beban hidup . Apalagi kemiskinan dan menjadi
sebuah bentuk masyarakat. Yaitu kaum yang tertindas (mustadafiin) dan
yang menindas (mustakbirin). Disitulah jika melihat dari segi ekonomi.
Perdagaan yang dilakukan adalah atar wilayah.
Selanjutnya
dengan kondisi seperi itu Asghar Ali
menawarkan teologi pembebasan. Gagasan tersebut dilihat dari kondisi sejarah
dan matrealise. Karena sejarah dan transcendental mengacu kepada kehidupan
manusia yang kongkrit. Hingga dia mengaitkan ekonomi politik. Menurutnya organisasi
islam bukanlah sesuatu yang suci. Akan tetapi banyak kepentingan kekuasaan.
Lahirnya
teologi pembebasan adalah suatu respon terhadap realitas tersebut. Hal itulah
yang melahirkan suatu keasadaran kritis terhadap sosial. Sampai melahirkan
tugas yang sebenarnya arti dari kemanusian. Gerakan sosial yang pada akhirnya
adalah konsep teologi pembebasan. Yang mengedepankan suatu iman yaitu, dalam
kehidupan manusia ada suatu yang tidak adil dan tidak beradab. Yaitu
kapitalistik yang dibuat ketergantungan. Merebut haknya kaum miskin terhadap
ketertindasan menuju kebebasan. Dan merekontruksi teologi tradisional menuju
Gerakan sosial. Lewat keimanan manusia yang menjadi dasar pijakan. Dengan
prinsif kesamaan sebagai pandangan tentang agama.
Disini
Asghar Ali merupakan pemikir teologi islam. Tetapi disisi lain juga
terpengaruhi oleh filsafat. Menurutnya agama adalah dasar untuk revolusi
sosial. Dalam konteks Arab dulu menenteng penindasan. Lahirnya islam sebagai
perubahan untuk kesamaan dan keadilan sosial. Teologi pembebasan artinya
merupakan nilai spirit dan ruh pembebasan manusia. Karena manusia merupakan
subjek yang bebas. Baginya mesti
diluruskan perjuangan islam seperti apa. Yaitu anti “status quo” dan hal itu
merupakan jihad umat islam.
Baginya
ajaran islam adalah ajaran universal. Didalamnya termuat pembebasan dari
struktur kekuasaan yang menindas. Meskipun itu ideologi, politik dan ekonomi.
Agama mengajarkan tidak percaya terhadap perbuatan manusia. Apalagi berhala
baru bagi umat. Itu semua merupakan penyekutuan bagi tuhan yang maha esa.
Didukung konsep pembebasan tersebut oleh sang
revolusioner yaitu Nabi Muhammad. Dia berhasil membawa masyarakat mekah kedalam
kesatuan. Dan menghacurkan segala tirani yang menindas bagi rakyat. Konsep
tauhid seperti itulah yang menjadi sebuah Gerakan masyarakat. Keesaan tuhan
dipandang bukan sebatas suatu yang transcendental. Akan tetapi meliputi
hubungan manusia dengan manusia.
Doktrin
tauhid bukan hanya meliputi suatu yang metafisik. Tetapi diletakan lewat
manusia itu sama dihadapan Allah.[2]
Karena perbedaan yang terbentuk lewat ras, suku, agama hanyalah untuk saling
mengenal. Agar terjadinya suatu tatanan yang adil melaui spiritual – material.
Dengan begitu lahirnya perjuangan untuk menyusun bentuk masyarakat yang lebih
baik.
Asghar Ali Engineering mengatakan
“orang-orang kafir dalam arah yang sesunguhnya adalah orang-orang yang menumpuk
kekayaan dan terus membiarkan kezaliman dalam masyarakat serta merintangi
upaya-upaya menegakan keadilan. Seorang mukmin sejati bukanlah sekedar orang
percaya kepada Allah akan tetapi ia juga harus seorang mujahid yang berjuang
menengakan keadilan, melawan kezaliman dan penindasan”.[3]
Sebenarnya jika kita lihat teologi
pembebasan lahir di amerika latin. Semangat untuk revolusi kaum mustadafiin
untuk kesejahtraan ekonomi dan politik. Kristen ortodok yang memang mendominasi
pada saat itu. Kenapa lahirnya konsep tersebut sebagai keberhasilan revolusi
kuba. Hingga dalam kejadian tersebut melibatkan berbagai elemen yang
berpengaruh dan memberikan sikap terhadap kejadian. Karena pada saat itu titik
persamaan dijalan dalam bentuk masyarakat.
Persamaan dan keadilan yang digagas
Asghar Ali sebagai tujuan pembebasan. Kedua itu hal, sangat konseptual melihat
kehidupan sosial Nabi Muhammad. Dia adalah seorang aktivis Gerakan HAM dan juga
pembebasan manusia dari kebodohan dan ketertindasan. Menurutnya ajaran tersebut
tidak hanya memabahas persoalan tuhan. Tentang monoteisme dan teologi
tradisional. Akan tetapi berhubungan dalam kesatuan sosial dalam kehidupan
manusia. Dalam al-Quran ada adl dan qist. Adl artinya
kesamaan dan kesetaraan sedangkan qist artinya distribusi yang sama. Hal
tersebut adalah kewajaran karena dibentuk oleh kesatuan ekonomi.
Dimekah juga Nabi dalam
perjuangannya membela kaum miskin. Bahkan orang buta dikasih makan setiap hari
olehnya. Disini terlihat dari hasil renungannya Nabi Muhammad melihat mekah
waktu itu terbelenggu. Perbudakan dan ketidaksetraan dalam kemanusia itu
hilang. Hingga letak pembebasan Nabi disitulah ia lakukan.
Hingga lahirnya sebuah ayat al-Quran
“kekayaan tidak boleh hanya beredar dikalangan kamu orang-orang kaya”
(Quran,59:7). Hal ini menunjukan bahwa islam melarang kepada orang-orang yang
selalu mengumpulkan hartanya. Apalagi tidak mengumpulkan zakat bagi orang
miskin. Disinilah Nabi Muhammad sebagai pembebas dari keadaan ekonomi yang
menjerit kota mekah.[4]
Hingga abad 20 ini teologi
pembebasan dilakukan oleh tokoh-tokoh agama, romo dan para borjuis. Tetapi hal
ini muncul ketika dieropa yaitu Gustavo Gutierrez, dalam bukunya teologia de
la liberacion. Juan Louise Segundo, Hugo Asmann, dan John Sabrino. Dari
sinilah teologi tersebut lahir yang secara akademis melakukan kajian. Tepatnya
diamerika latin yang asal usul lahirnya teologi pembebasan.
Lahirnya ideologi sebagai alat
kekuasan secara tingkah dilakukan oleh status quo. Bagi Asghar Ali anti
kemapanan adalah bagian dari perjuangan untuk melawan status quo.
Karena lahirnya eksploitatif, politik ekonomi, gender, dan ketidaksetaraan.
Nilai ketahuidan yang dimaksud disini adalah anti terhadap hal itu. Yang pada
akhirnya menimbulkan ketidakadilan dalam umat islam.
Disitulah
kenapa kita jelaskan kembali bahwa mekah pada waktu terjadi kemorosotan. Para
suku-suku tersebut banyak permusuhan yang bisa dikatakan sebagai tribalisme.
Didalamnya suka terdapat mabuk-mabukan yang menjadi budaya sehabis perang.
Kecendrungan tradisional dalam kebudayaan. Hingga akhirnya Nabi Muhammad ada
semangat kuat yaitu anti terhadap kemapanan. Hartanya habis untuk perjuangan
pembebasan.
Hingga
budaya patrialki mengakar disana. Seperti perempuan pada waktu itu terlihat
tidak dihargai. Hanya pemuas sek belaka. Karakter tersebut juga adanya
kepercayaan paganisme. Yang banyak menyembah berhala dan buatan manusia itu
sendiri.[5]
Dari
situlah Nabi Muhamad menawarkan dan merelasikan suatu konsep. Membentuk suatu
masyarakat jahiliyah menuju keadilan dan kesetaraan. Dan membela kaum yang
lemah dan menindas. Pandangan Asghar Ali disitulah Nabi Muhammad adalah
pembebas. Membetuk suatu masyarakat dengan kesetaraan social dan ekonomi. Yang
mengedepankan aspek kesamaan dan kesatuan umat. Karena disitulah kesatuan umat
dibentuk lewat kita semua mahluk sama dihadapan Allah.
Maka
dari itu, sistem yang menindas yang dilakukan oleh pendukung status quo. Adalah
sesuatu yang zalim yang harus diberi lawanan untuk mencapai suatu tatanan
masyarakat yang bebas dari deskriminasi, dominasi, otoritas dan eksploitatif.
[1] Mahasiswa biasa, aktif dikajian ilmu
keislaman dan katanya, dia seorang pengamat politik dalam dan luar. Baik luar
kota, luar negeri dan luar rumah.
[2] M. Mukhtar, Teologi Pembebasan
Menurut Asghar Ali Engineering, Jurnal Filsafat 2000, hlm 261-265
[3] Sebagaimana dikutip oleh Nur Sayyid
Santoso Kristeva dalam bukunya, manifesto wacana kiri: membentuk solidaritas
organik. Hlm 169
[4] Nur Sayyid Santoso Kristeva, manifesto
wacana kiri: membentuk solidaritas organik, Imam Ghozali Press – Cilacap
2009, hlm 177
[5] Muhamad Mustaqim, Paradigma Islam
Kritis: Studi Pemikiran Teologi Pembebasan Ali Asghar dan Kiri Islam Hassan
Hanafi. Fikrah 2015, Vol 3 No 2. Hlm 311-314

Comments
Post a Comment