Skip to main content

Posts

Menjaga Kewarasan, Merawat Kebebasan

 Kita tidak bisa tau bahwa dirinya sedang berfikir. Kesadaran seolah-olah telah lupa bahwa dia sebenarnya tidak menyadari. Akan tetapi kesdaran hanya bisa disetir pada kendaraan. Dengan demikian dapat bisa mengontrol dengan kecepatan yang sesuai.  Seolah-olah kita tidak bisa kembali jika itu mungkin akan bertanya pada bapak-bapak itelektual kita. Seperti peradaban Yunani Sokrates, Aristoteles dan Plato. Meski terlampau jauh namun semangat mereka berfikir akan selalu dikenang.  Perlawanan terhadap kekaisaran yang menindas tidak bisa tinggal diam. Mereka membuat suatu diskurus yang menyebar ditengah-tengah masyarakat. Hal ini seolah-olah masyarakat dibuat bingung. Dengan suatu kesadaran bahwa dirinya telah dikontrol oleh kelompok minoritas kuat yang memegang status quo .  Status quo tersebut telah menjadikannya tuhan baru. Meskipun hari ini banyak menyuarakan membela atas nama tuhan dan pertarungan dan perpecahan atas nama agama. Bahkan berani mati atas nama perjuanga...

Dakwah Gaya Baru, Sebuah Upaya Melihat Islam Berkemajuan

Sejak abad 12 pergulatan teologi islam mengalami keterpurukan. Perdebatan anatara Syiah dan Sunni menuai banyak polemik. Kalangan Syiah yang nota bene merupakan kelompok pengikut Ali yang menentang kelompok penguasa.  Sampai bermunculan kelompok-kelompok yang berpaham keluar dari barisan tersebut. Khawari, Kodariyah, Jabariyyah, Muta'zilah dan Asya'riyyah. Sebuah fenomena peradaban islam yang lengkat akan warna. Dengan pergulatan tersebut bisa kita telusuri makah melihat islam yang berkemajuan.  Realitas sekarang kita bisa lihat atas nama agama pertumpahan darah bisa terjadi. Atas nama Tuhan saling dengki dan menghasut bisa terjadi. Bahkan atas nama tuhan keadilan tak pernah muncul kepermukaan. Sebab tuhan-tuhan baru telah muncul. Sosok kapitalisme dan feodalisme ditengah umat islam masih terbelenggu.  Namun kita akan sedikit menggeser bahwa tuhan dibumi mampu mengatasi problem hal itu. Seolah-olah tuhan yang kita sembah jauh dari peradaban bumi tertiwi. Tuhan sendiri tel...

Kembali Pada Saat Yang Sama

 Tulisan ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Namun aku akan tulis secara biasa saja. Soalnya sesuatu yang biasa jika terus menerus dilakuka ia akan merasakan efek yang sangat luar biasa.  Dalam tulisan bukan sajian untuk serius sebab buat serius jika pada akhirnya akan tertawa. Keseriusan dan ketidakseriusan memang dipertanyakan banyak orang seperti pacaran, jodoh dan lain-lain. Memang sangat membingunkan seperti mahasiswa yang teriak keadilan dalam tubuh ketidakadilan sendiri.  Bagiku menjadi mahasiswa adalah momen untuk mencari dan melakukan yang biasa saja. Sebab orang terlalu banyak yang mencari yang luar biasa. Bagiku kedua hal itu memang biasa saja.  Oke, aku menulis bukan untuk curhat apalagi mendonging. Tapi tulisan ini adalah pikiranku baik bermanpaat atau tidak. Sebab kedunya memiliki sesuatu yang biasa saja.  Aku menulis sudah lulus kuliah, kehidupan kampus berlomba-lomba dalam menjadi sosok yang luar biasa. Namun bagi saya, hanyalah ingin menjadi m...

Michael Foucault's Theory of Power

Power, according to Michael Foucault, does not lie at the top but from the presence of political and economic benefits. Power becomes a struggle in a strong minority for mutual domination. So with that that power spreads no longer at the peak. The knowledge that Foucault considers power. Absolute truth is found in knowledge. When the axiom or truth has been incontrovertible so far is knowledge. Thus that is what is meant by absolute truth. Knowledge is something that a group of people collects and determines is used by a strong minority to impose ideas. About those who are considered "right" in the majority. With that, power is the determinant of truth. Power has the legitimacy of determining what is right and deciding what is normal and abnormal or wrong and right. So that truth is produced in power. Then the truth is no longer beyond power. Michael Foucault offers a geneological method. That realizing power is fighting against strong minorities to dominate each other. So th...

Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis

The study of discourse has reaped the surface for discussion. Discourse is text, speech, both verbal and non-verbal, which is communicated continuously. Discourse is often influenced by social conditions. So that the language or text is no longer neutral. One of the critical discourse analysis models is Norman Fairclough, which offers discourse analysis. According to him, text makers are no longer neutral but are influenced by the social context that develops in the area of ​​the text or discourse maker. In Fairclough's analysis the text contains ideology and power. So the text is seen as a discourse practice and social change. To reveal the meaning and meaning in the text Fairclough offers a three-dimensional analysis. Namely, First, the analysis of texts that contain things such as linguistics, coherence, diction, grammar and vocabulary. So that it is divided into representation, relations and identity. Then the representation is divided into clauses, a combination of clauses and...

Memahami Teologi sebagai Sebuah Tindakan

 Islam sebagai sebuah agama memberika tawaran untuk bersikap baik maupun buruk. Namun kebaikan dan keburukan telah menjadi tuntutan bagimana nasib kita setelah kematian. Seakan-akan kita diiming-imingi oleh kenikmatan surga dan siksaan dinearaka.  Seolah-olah islam hanya sebuah keputusan yang bisa memponis seseorang. Manusia sekan tidak berdaya dihadapan takdir. Seta tidak bisa keluar dari segala kungkungan yang menjeratnya. Akan tetapi persoalan nasib dan keputusan manusia ada dalam kehendak dirinya.  Manusia bebas menentukan nasib dan perjalanannya asalkan dapat dipertanggungjawabkan olehnya. Keputusan dan kebebasan tersebut melekat pada sebuah kesadaran. Hal ini, telah menjadikan manusia sebagai ketidakberdayaan dihadapan keputusannya.  Namun untuk menulusuri hal itu, kita akan masuk pada ajaran ini dari islam. Dan inti ajaran islam adalah tauhid (teologi). Seiring laju dan berkembangnya sejarah teologi telah menawarkan konsep dari berbagai perspektif. Mulai dari ...

Memikirkan Ulang atas Keberislaman Kita

 Islam merupakan ajaran universal yang masuk pada ruang berbagai aspek. Situasi ini telah hadir sebagai jawaban atas pendekataan islam tentang politik, sosial dan ekonomi. Meskipun islam dianggap sebagai sebuah agama yang melekat pada unsur kebudayaan.  Sepanjang jalan kenangan islam hadir sebagai wajah penyelamatan atas tuntutan dihari akhir, yakni terdapat dua jalan yang dianggap umat islam sebagai pintu gerbang setelah kematian. Neraka dan surga telah menghantui umat islam bagiamana nasib kedua jalan tersebut ditentukan oleh kehidupan sekarang.  Namun persoalan tersebut telah membabi buta sehingga umat islam kurang dalam memikirkan situasi saat ini. Islam dipandang sebagai suatu gerakan statis yang mempunyai sikap menerima saja. Sebagai seorang islam harus meragukan kembali atas berbagai pengetahuan yang didapatkan. Agar bertujuan mempunyai kebenaran yang mutlak atas apa yang diyakini olehnya.  Sebuah sikap yang mesti dipikirkan kembali dalam kehidupan keberislam ...